Resensi Buku "Animal Farm"

 


Penulis: George Orwell

Penerjemah: Prof. Bakdi Soemanto

Penerbit: Bentang Pustaka


Perang adalah perang. Satu-satunya manusia yang baik adalah manusia yang mati.


Setelah menutup halaman buku ini, saya diam dan bengong cukup lama. Kemudian beberapa titik air mata jatuh. To be honest, saya syok baca kalimat pamungkas buku ini. Kalimat tersebut bisa jadi tamparan keras dan sindiran tajam bagi manusia, apapun status sosialnya.

"Makhluk-makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya."

Buku ini diterbitkan pada 1945 tapi masih relate hingga hari ini. Apalagi sebagai orang Indonesia yang menyaksikan banyak sekali kekacauan belakangan ini, buku ini terlihat seperti kenyataan we are living in it.
Animal Farm merupakan alegori politik, mengisahkan sekelompok babi yang memimpin Peternakan Manor setelah berhasil mengusir pemilik asli peternakan dari kalangan manusia bernama Tuan Jones. Di peternakan ini hidup berbagai jenis hewan, tidak hanya babi tetapi juga anjing, kuda, ayam, kucing, gagak, dan lainnya.

Pemberontakan para binatang terhadap manusia awalnya digagas oleh seorang babi tua nan bijaksana bernama Major. Major mulai mempengaruhi kawan-kawannya dengan memulai pidato berapi-api mengenai keserakahan manusia. Sayangnya, dua hari setelah pidato revolusioner tersebut, ia mati.

Gagasan tersebut kemudian direalisasikan sepeninggal Major, dengan dipimpin babi Napoleon. Mereka menamakan gerakan mereka Binatangisme yang menjadi awal mula terbentuknya Republik Binatangisme. Prinsip atau moto gerakan ini: Kaki empat baik, kaki dua jahat. Mereka menganggap manusia itu jahat dan para binatang dilarang berhubungan dengan manusia.

Tanda mencolok dari Manusia adalah tangannya, yang dengan instrumen itu ia bisa melakukan segala instrumen kejahatan. (Babi Snowball) 

Snowball adalah sosok babi yang cerdas, punya rencana membangun kincir angin yang dapat mempermudah hidup para binatang. Namun Napoleon yang sangat bossy tidak setuju dengan rencana tersebut dan menurutnya rencana semacam itu terlalu utopis dan gak berguna. Sementara Napoleon adalah sosok babi yang sangat retoris dan suka pidato dengan berapi-api, tak ada tawaran kebijakan yang bisa solutif untuk masa depan peternakan hewan tersebut.

Tiba-tiba, Napoleon pun mengusir Snowball dari peternakan. Berbagai hal licik ia lakukan untuk menjelekkan nama Snowball. Bahkan ketika banyak kekacauan muncul di peternakan tersebut setelah pengusiran Snowball, ia selalu menuduh itu adalah ulah Snowball yang bersekongkol dengan antek-antek asing (manusia) hahahah. Singkat cerita, Napoleon ini menjadi otoriter. Dia semakin gendut dan makmur, beratnya mencapai 152 kilogram.

Napoleon selalu didampingin beberapa ekor anjing galak yang jadi pengawalnya, yang selalu menggonggong jika ada rakyat binatang yang mendekati bosnya. Napoleon gendut juga punya ajudan atau sekretaris bernama babi Squealer yang jago menjilat. Gue benci banget sama Squealer ini wkwkwk. Saya juga jadi curiga, kalau-kalau si babi tua Major itu dibunuh si Napoleon diam-diam karena ternyata si Napoleon ini sudah mengincar kursi puncak pimpinan Peternakan Binatang ini sejak dulu hahaha.

Pokoknya this book is highly highly recommended. I think I did not just read the book but I was living it, I saw the whole picture with crystal clear, I am so familiar with the scenes in this book, if you know you know. And somehow, this book radicalized me a lot. Jangan lupa baca buku for reading is political.

By the way, baru tahu kalau nama asli sastrawan asal Inggris ini adalah Eric Arthur Blair. Rencana mau baca lagi Animal Farm yang versi Bahasa Inggris. 

Comments

Popular Posts