Resensi Buku "Dengarlah Nyanyian Angin"

 


Penulis: Haruki Murakami

Penerjemah: Jonjon Johana

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia


... bahwa manusia bisa belajar sesuatu dari kondisi yang sangat menyengsarakan sekalipun. Karena itulah aku bisa melanjutkan hidupku meskipun hanya setahap demi setahap..

Selalu ada perasaan berbeda yang kita rasakan ketika membaca ulang sebuah buku. Terkadang, kita akan menemukan hal yang tidak kita temukan saat membaca buku tersebut untuk pertama kali. Inilah yang saya rasakan ketika kembali membaca buku Dengarlah Nyanyian Angin ini.

Saya membaca buku ini pertama kali sekitar 5 atau 4 tahun lalu. Tapi saya lupa ceritanya dan tak ada hal membekas yang saya rasakan ketika membaca buku ini untuk pertama kali. Maka dari itulah saya memutuskan membaca kembali buku ini di tahun 2026 ini.

Buku ini lumayan tipis, hanya sekitar 140 halaman. Jadi sedikit mengobati reading slump berbulan-bulan ini.

Dengarlah Nyanyian Angin ini mengisahkan dinamika kehidupan anak muda Jepang sekitar tahun 1960-an. Di mana ketika itu mereka tengah dilanda modernisasi budaya pop Barat yang mulai masuk ke negara itu. Di tengah hal itu, muncul upaya pencarian jati diri dan mempertanyakan eksistensi serta tujuan hidup mereka.

Kisah dalam buku ini berputar di antara tokoh Aku, Nezumi, dan seorang gadis penjaga toko piringan hitam. Tokoh Aku, seorang pria yang baru memasuki umur 20 tahun, merupakan pencerita dalam buku ini. Aku memiliki teman yang setahun lebih tua darinya, Nezumi, anak laki-laki yang sebal menjadi anak orang kaya, dan bercita-cinta menjadi penulis yang tokoh-tokoh dalam bukunya itu tidak akan pernah mati. Kehidupan Aku dan Nezumi ini seputar nongkrong, mabuk dan ngobrol hal-hal absurd tentang hidup mereka. Mereka biasanya nongkrong di Jay's Bar, yang dikelola seorang pria keturunan China.

Hei, kalau aku mati, tidak akan ada seorang pun yang mengingatku setelah seratus tahun berlalu...

Di tengah kehidupannya yang bingung arahnya kemana, Aku berkenalan dengan seorang gadis yang bekerja di toko piringan hitam. Seorang gadis yang membawa trauma masa kecilnya, yang juga sama-sama tak tahu arah hidupnya kemana.

"Aku takut "

"Takut apa?"

"Takut segalanya. Apa kamu tidak merasa takut?"

Saya merasa setiap membaca novel karya penulis Jepang, penggambaran tempat atau latar suasana itu selalu sunyi, senyap, kosong, dan sepi. Ada kemuraman dan kesedihan yang kadang tak diungkapkan secara eksplisit tapi dapat dirasakan dengan penggambaran penulis tentang suatu tempat atau kondisi di mana para tokohnya berada. Vibes inilah yang saya suka dari buku-buku penulis Jepang, dan saya menemukan itu juga di buku pertama Haruki Murakami yang aku baca ini.

Orang yang memberi dengan penuh keikhlasan akan selalu memperoleh gantinya


Segala sesuatu berlalu. Tak seorang pun dapat menangkap semua itu. Seperti itulah kita menjalani hidup.

Dalam buku ini, Haruki Murakami juga banyak mengutip dari buku karya Derek Heartfield, penulis Amerika yang bunuh diri dari Empire State Building. Karena tokoh Aku juga sangat terobsesi dengan penulis ini.

Saya sangat menikmati buku ini, beda dengan kesan yang saya rasakan ketika pertama kali membaca buku ini. Dengarlah Nyanyian Angin (Kaze ano Uta O Kike) adalah novel pertama Haruki Murakami yang diterbitkan pada 1979 dan langsung menerima penghargaan Gunzo Literaty Award.

Saya jadi tertarik untuk membaca buku Haruki Murakami lainnya. Next baca apalagi ya?

Jangan lupa baca buku, folks! Xoxo!

Comments

Popular Posts