Resensi Buku "Pavilion of Women - Madame Wu"
Judul: Pavilion of Women - Madame Wu
Penulis: Pearl S. Buck
Penerjemah: Ny. Suwarni A.S.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
"... laki-laki tak mungkin mengawini seorang dewi. Dia tidak akan cukup kuat untuk itu."
"Laki-laki mencintai perempuan kalau dia tidak terlalu pintar."
Ini adalah buku yang pertama saya selesaikan di 2026. Entahlah kenapa tahun ini saya malas sekali baca buku. Tapi tetap bersyukur akhirnya saya bisa selesaikan buku ini.
Sebelumnya saya pernah membaca buku ini sekitar 4 atau 5 tahun lalu. Dan saya memutuskan untuk baca ulang karena dulu saya belum bikin reviewnya. Hal menarik dari membaca ulang sebuah buku adalah kita bisa menemukan hal-hal baru lain atau perspektif kita juga bisa berubah tentang suatu hal atau tokoh yang ada dalam buku tersebut.
Waktu pertama kali membaca buku ini, saya sangat mengagumi kharisma Madame Wu atau Ailien, tokoh utama dalam buku ini. Namun di pembacaan kedua ini, saya malah sebel sama dia hehe. Saya jadi lebih memahami bahwa Madame Wu ternyata punya kelemahan bahwa dia tidak bisa menjadi diri sendiri dan lebih mementingkan orang lain walaupun harus mengorbankan perasaannya sendiri. Dia juga terlalu gengsi dengan perasannya dan kerap pura-pura tegar. Padahal dia juga perempuan biasa yang punya perasaan dan keinginan lain.
The Pavilion of Women mengisahkan kehidupan Madame Wu dan keluarganya yang hidup di China pada masa pra Perang Dunia I. Madame Wu merupakan orang kepercayaan keluarga yang mengurus berbagai hal dalam rumah keluarga Wu. Dia tidak hanya seorang istri, tapi juga bisa dikatakan sebagai kepala rumah tangga, menantu, ibu, mertua, majikan.
Dia tinggal di satu lingkungan yang hanya diisi keluarganya. Madame Wu menikah dengan Mr Wu yang berasal dari keluarga kaya raya dan memiliki empat anak laki-laki bernama Liangmo, Tsemo, Fengmo, dan Yengmo.
Saat ulang tahunnya ke-40, Madame Wu memutuskan mencarikan istri baru yang jauh lebih muda untuk suaminya. Keputusan ini mengagetkan keluarganya. Tapi Madame Wu tetap kekeuh pada keputusannya. Apa yang mendasari dia memutuskan hal ini? Padahal dia yakin suaminya orang yang setia dan gak neko-neko. Madame Wu pun menetapkan syarat-syarat untuk calon istri baru Mr Wu. Lalu dipilihkan seorang perempuan desa yang miskin bernama Chiuming.
"Mengapakah alam tidak menciptakan wanita dua kali lebih panjang masa mudamya daripada laki-laki, supaya kecantikan dan kesuburannya dapat mengimbangi kekuatan laki-laki? Mengapa nafsu seorang laki-laki untuk menanamkan benihnya ke dalam tubuh wanita berlangsung begitu lama?"
"Akan kujaga jasmaniku baik-baik, tidak lagi untuk laki-laki, tetapi sebagai tempat tinggal jiwaku." (Madame Wu)
Bruder Andre, seorang pastor dan misionaris dari Venesia kemudian masuk dalam kehidupan Madame Wu. Kehadiran Andre yang juga guru bahasa Inggris salah satu putranya, Fengmo, mengubah Madame Wu dalam banyak hal.
Ada bagian yang membuat saya bingung dengan sikap Madame Wu, yang menurut saya merupakan kompleksitas perasaan manusia. Dia cemburu sama suaminya yang tiba-tiba menginginkan perempuan lain atas kemauan sendiri yaitu Yasmin dan ingin membawanya pulang, tapi kemudian dia protes dan marah ke Bruder Andre yang mengatakan salah dia sendiri awalnya yang membawakan perempuan lain untuk suaminya.
"Anda tidak mengerti bagaimana rasanya terpaksa harus menyerahkan tubuh kepada laki-laki bertahun-tahun lamanya padahal kita tak suka. Kami wanita harus menyerahkan tubuh kami yang halus ini ke tangan-tangan kasar, harus menyaksikan bagaimana nafsu menghangat dan berkobar sedang darah kami tetap dingin. Kami harus merasakan jantung kami menjadi lemah dan pikiran memuak karena terpaksa harus melakukannya demi kedamaian dalam rumah tangga."
"Dia ingin menjelajahi jiwanya yang mencintai seorang laki-laki asing yang tak pernah mengulurkan jarinya sekalipun padanya."
Buku ini juga menyoroti sistem patriarkal yang masih melekat pada masyarakat China ketika itu, di mana anak perempuan yang lahir ke dunia itu dianggap subordinat atau makhluk kelas dua. Perempuan yang melahirkan bayi perempuan pun dianggap gagal karena tidak bisa memberikan anak laki-laki untuk suaminya. Tapi ini juga agak kontradiktif dengan tokoh Madame Wu yang mendapat tempat istimewa di lingkungan keluarga suaminya. Selain itu, buku ini juga menyoroti pertentangan budaya Timur dan Barat. Madame Wu sendiri sangat resisten dengan masuknya budaya Barat ke lingkungan dan keluarganya, dia tidak ingin anaknya terpapar budaya Barat.
... sebab kata orang laki-laki Barat nafsunya besar dan beringas.
Hahahahahah, salah satu kalimat dalam buku ini yang bikin ngakak, yang merupakan prasangka kebanyakan masyarakat Timir terhadap Barat ketika itu.
Buku ini diterbitkan pertama kali pada 1946 dan yang saya baca ini merupakan cetakan keempat terbit Februari 2004 oleh Gramedia Pustaka Utama. Ini juga salah satu bagian dari Nobel series saya di mana salah satu wishlist saya adalah membaca karya para pemenang Nobel Sastra. Pearl S. Buck memenangkan Nobel Sastra pada tahun 1938. Dia seorang putri dari misionaris yang menjalankan misinya di China.
Hidupmu akan lebih senang kalau kau tidak banyak berprasangka.
Apalah artinya kesedihannya sendiri dalam samudra kehidupan itu, dan kesenangannya pun tenggelam tanpa arti dalam dunia yang luas ini
Kita semua punya kesulitan dan kita selesaikan dengan cara masing-masing, bukan?
Tubuh dan jiwa harus selalu berkembang berdampingan, tak boleh ada salah satu yang diabaikan.
... bahwa bagi seorang laki-laki kenikmatan badaniah adalah lebih penting dari jiwanya.
Jangan lupa baca buku teman-teman, xoxo!


Comments
Post a Comment