Resensi Buku "An Artist of the Floating World - Masa Penuh Kebimbangan"
Penulis: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Rahma Wulandari
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2013
Nasib kita berada di tangan pengusaha serakah dan politikus yang lemah.
Sejauh apa pun jalan kehidupan memisahkan kita di tahun-tahun mendatang, aku akan selalu mengingat kebaikanmu....
Aku lupa tahun berapa aku baca buku ini pertama kali. Di 2026 ini aku memutuskan membaca kembali novel ini. Alasannya karena aku lupa ceritanya dan waktu itu aku belum bikin reviewnya. Salah satu tujuanku menulis review adalah biar aku ingat kisah yang diceritakan dalam buku yang sudah aku baca.
Di pembacaan kedua ini, to be honest aku lebih memahami isi bukunya daripada waktu pertama kali baca. Hehe. Aku lebih paham isu dan gagasan novel ini daripada sebelumnya.
Buku ini berpusat pada kisah Masuji Ono, seorang seniman yang menjalani hidup di masa tua lalu mengingat kembali masa-masa dia menjadi pelukis di zaman perang dunia kedua. Ada sesuatu di masa lalunya yang membuat dia bimbang dan khawatir hal itu dapat dijadikan alasan keluarga calon menantunya membatalkan perkawinan dengan anak perempuannya, Noriko.
Noriko sempat batal menikah, pertunangan dibatalkan oleh keluarga calon suaminya. Ada dugaan pembatalan itu ada kaitannya dengan masa lalu Masuji Ono yang pernah menjadi seniman yang bekerja untuk pemerintah dan ikut menyebarkan propaganda agar anak-anak muda pada zaman itu mau ikut berperang. Propaganda pemerintah disebut sebagai pemicu kehancuran Jepang dan hilangnya generasi muda pada masa itu.
Menjelang rencana pernikahan Noriko untuk kedua kali, Masuji Ono berusaha mendatangi beberapa kawannya di masa lalu yang bermasalah dengannya. Kebiasaan di Jepang, sebelum menikah orang tua calon pengantin biasanya menyewa detektif untuk menelusuri latar belakang calon menantu dan besannya.
Masuji Ono adalah pelukis yang cukup perfeksionis dan idealis. Namun entah bagaimana kemudian idealisme itu tidak dapat dia pertahankan, dan bahkan dia dianggap sebagai pengkhianat oleh rekan sesama pelukisnya. Bakat melukisnya terlihat sejak dia masih muda. Orang tuanya, khususnya ayahnya, menentang keinginannya menjadi pelukis karena dinilai tidak bisa dijadikan sumber penghasilan dan penghidupan. Bahkan lukisan-lukisannya pernah dibakar ayahnya. Tapi dia tetap bersikeras memilih sebagai pelukis.
Seniman, hidup dalam kemelaratan dan kemiskinan. Mereka menghuni dunia yang memberikan mereka setiap godaan untuk menjadi orang berkemauan lemah dan berakhlak buruk.
Buku ini berlatar belakang pasca perang dunia kedua, sekitar Oktober 1948 sampai November 1949. Menggunakan POV orang pertama yaitu Masuji Ono, buku ini membawa kita menelusuri kehidupan Ono di masa tuanya, mengenang kembali masa mudanya ketika masuk ke perguruan melukis, dan juga bertemu dengan kawan-kawan tongkrongannya di Kedai Mrs Kawakami di Migi-Hidari, daerah dekat rumah Masuji Ono.
Sosok Masuji Ono menurutku adalah orang yang menolak disalahkan atas keputusan hidupnya di masa lalu dan kontribusinya terhadap kehancuran Jepang. Dia mengenang diri dan masa lalunya dengan tone yang tenang dan positif. Bahkan walaupun salah satu putranya, Kenji, tewas di medan perang, tak ada rasa bersalah. Menantunya, Suichi, suami dari putri pertamanya, Setsuko, bahkan menyindirnya atas kontribusinya tersebut, tapi sepertinya dia terlalu asyik dengan kenyamanan hidup yang dia dapatkan.
Mereka yang mengirim orang seperti Kenji ke medan perang untuk wafat sebagai pejuang yang berani, di mana mereka sekarang? Mereka melanjutkan hidup masing-masing yang tak jauh berbeda dengan kehidupan mereka sebelumnya. Sebagian besar lebih sukses dibandingkan sebelumnya, dan bersikap sangat baik di depan pihak Amerika, merekalah yang telah menuntun negara ini pada kehancuran. (Suichi)
Kalau seorang seniman menolak mengorbankan kualitas karyanya demi cepat selesai, maka itu adalah sesuatu yang harus kita semua hormati. (Masuji Ono)
Sebuah loyalitas harus didapatkan sendiri. Terlalu banyak loyalitas yang dibentuk. Sudah sering pula orang bicara soal loyalitas dan mengikutinya secara membabi buta. Aku bukan tipe orang yang ingin menjalani hidupku semacam itu.
Pasca perang dunia II, Jepang mengalami krisis. Kemiskinan meningkat, anak-anak sakit dan menderita kelaparan. Negara tersebut dikuasai pengusaha dan politikus tak becus. Sementara para seniman abai dengan kondisi negaranya dan hanya menciptakan karya lukisan yang dinilai kosong dan hanya fokus pada hal-hal remeh. Seniman yang punya idealisme berpikir bahwa mereka tak perlu hanya memikirkan estetika dari karya-karyanya tapi juga bagaimana ikut mengangkat fenomena sosial sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah.
Salah satu rekan Ono yang dia datangi sebelum Noriko menikah adalah Matsuda. Matsuda adalah pelukis yang tetap menjaga idealismenya, menjadikan karyanya sebagai sarana kritik terhadap ketidakadilan dan kehancuran negaranya. Menurutku, Matsuda adalah sosok yang bijak dan bisa memahami kebimbangan Ono atas masa lalunya.
Aku terlalu sibuk memperbaiki dunia ini dan lupa menikah (Matsuda)
Tak perlu terlalu menyalahkan diri kita. Setidaknya bersikaplah sesuai dengan keyakinan kita dan lakukan sesuai kemampuan kita. Toh, pada akhirnya kita akan menjadi orang biasa. Orang biasa tanpa bakat dan pandangan istimewa. (Matsuda saat bertemu kembali dengan Masuji Ono di masa tua mereka).
Kadang orang mengatakan aku melewatkan sesuatu yang berharga dalam kehidupan karena aku tidak pernah menikah dan punya anak. Namun, begitu aku melihat ke sekelilingku, anak-anak tampak tidak lebih dari sumber kecemasan. (Matsuda).
Sulit rasanya menghargai keindahan sebuah dunia saat kita meragukan validitasnya.
Perempuan tidak perlu lantas tampil membosankan hanya karena dia sudah menikah.
Aku yakin di masa-masa sulit seperti ini, seniman harus belajar menilai sesuatu yang lebih berwujud ketimbang hal-hal menyenangkan yang lenyap seiring fajar tiba. Seniman tidak perlu selalu identik dengan dunia yang tertutup dan moral yang rendah.
Bekerja dengan atasan yang tidak kompeten, sebaik apapun dia, akan menjadi pengalaman yang membuatmu terdemoralisasi.
Setidaknya kita bertindak sesuai dengan keyakinan kita dan melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita.
Somehow novel ini bikin ngantuk, mungkin karena pacenya agak lambat. Tapi saya suka cara Kazuo Ishiguro menggambarkan tempat-tempat di dalam cerita yang vibesnya sesuai dengan karater tokoh utama, sunyi, jauh dari kebisingan, rumah yang tenang dan teduh. Saya selalu merasa membaca sastra Jepang itu sangat kuat vibesnya sunyinya dan mengajak kita bisa menyelami lebih dalam karakter tokoh-tokohnya.
Ini novel pertama Kazuo Ishiguro yang aku punya dan satu-satunya yang pernah aku baca. Ini bagian dari Nobel Series aku, di mana aku suka baca buku karya para pemenang Nobel Sastra. Jangan lupa baca buku, teman-teman! Xoxo!


Comments
Post a Comment