Resensi Buku "The Thorn and the Carnation", Ditulis dari Penjara Israel

 


Penulis: Yahya Sinwar

Bahasa: Inggris


A minute of living with dignity and pride is better than a thousand years of a miserablelife under the boots of the occupation.

Yahya Sinwar muncul sebagai sosok pahlawan sesungguhnya seperti yang kita saksikan di film-film superhero. Kematian beliau secara terhormat dan bermartabat meruntuhkan narasi negatif yang selama ini dibangun Israel tentang sosok beliau dan kelompok perlawanan Palestina di Jalur Gaza.

Video akhir hidup Yahya Sinwar yang disebar Israel justru menjadi bukti bahwa beliau berjuang di garda depan peperangan sampai titik darah penghabisan demi memperjuangkan kemerdekaan bangsanya dari penjajah Israel. Sinwar gugur pada Oktober 2024 ketika berperang melawan pasukan Israel. Hasil otopsi menyatakan beliau tidak makan selama tiga hari saat meninggal. Saat itu Israel memberlakukan blokir masuknya bantuan sehingga membuat jutaan warga Gaza kelaparan. Jadi narasi Israel yang menyatakan pimpinan dan pejuang Hamas menumpuk bantuan tersebut terbukti bohong besar.

Video Sinwar yang kemudian viral itu justru membuat orang semakin kagum dan penasaran siapa sosok beliau. Ternyata beliau juga seorang penulis novel dan pascakematiannya, buku yang ditulisnya di penjara Israel yang kejam dan gelap, The Thorn and the Carnation ini disebar secara sukarela di media sosial. Tujuannya agar semakin banyak orang mengenal beliau. Saya pun mendapatkan buku ini dari Twitter dalam format PDF.

Buku ini ditulis dengan POV orang pertama bernama Ahmed. Dia tinggal di kamp pengungsi bersama ibunya, kakeknya, saudara-saudaranya (Mahmoud, Mohammed, Maha, Hassan, Fatima), dan dua sepupunya Hassan dan Ibrahim. Ayahnya ditangkap tentara penjajah dan belum kembali. Sementara pamannya hilang dan kemudian mendapat kabar dibunuh pasukan penjajah.

Ahmed menceritakan bagaimana kemudian saudara sepupunya yang kemudian menjadi iparnya, Ibrahim, ikut terlibat dalam kelompok perlawanan Palestina, yang kemudian menjadi Brigade Al-Qassam yang merupakan sayap militer Hamas. Ibrahim adalah sosok yang punya pendirian, menolak kompromi dengan pasukan penjajah. Baginya, tanah Palestina tak boleh dibagi dengan Israel dan hak bangsa Palestina akan tanah airnya harus dipertahankan sampai titik darah terakhir.

Pandangan politik Ibrahim ini membuatnya kerap berdebat sampai adu mulut dengan Mahmoud. Ahmed kemudian berapa pada pihak Ibrahim. Mahmoud berhaluan ke Fatah dan lebih menyetujui jalan perundingan seperti dilakukan Otoritas Palestina. Jujur gue sebel banget sama tokoh Mahmoud wkwkw. Menurut Mahmoud, aksi-aksi yang dilakukan kelompok perlawanan ini hanya memperkeruh suasana dan ingin menyabotase prose perdamaian, mempertaruhkan kepentingan nasional rakyat Palestina.

Sementara itu, Ibrahim meyakini, walaupun kelompok perlawanan tidak selalu berhasil memerdekakan tanah airnya dari cengkeraman Israel, setidaknya mereka telah berjuang dan memenuhi kewajiban nasional mereka.

"Listen, people! These Jews have occupied our land, driven us from ourhomes, killed our men, and violated our dignity. And yet, there are those among us ready to betray the very freedom fighters who risk their lives for us. What should be the punishment for a traitor who collaborates with theJews?" The unanimous cry was for death. Abu Hatem then took his rifle off his shoulder, aimed it at the spy's head,and as my mother covered my eyes, I struggled to see. But I heard thegunshots and the crowd's vengeful cries: "Death to the traitors! Death tothe agents!"

Dalam buku ini juga dipaparkan dilema yang harus dihadapi orang Palestina yang harus bekerja di Israel. Ada yang beranggapan bekerja di Israel sebagai bentuk pengkhianatan tapi juga ada yang berpikir realistis dan bekerja hanya untuk uang demi menghidupi keluarga mereka karena mereka tak punya pilihan. Orang-orang Palestina bekerja di Israel sebagai buruh kasar di bidang kontruksi, pertanian, dan sebagai OB. Sementara orang-orang Yahudi dikhususkan untuk bidang-bidang profesional.

Buku ini juga tak lepas dari gambaran kekejaman penjajah Israel terhadap rakyat Palestina. Termasuk kekejaman mereka terhadap para tahanan Palestina. Pasukan penjajah kerap melakukan pengepungan. Ketika datang tentara Israel melakukan pengepungan di Palestina, warga biasanya berteriak "Bai'oo" (sell), sebagai cara untuk menginformasikan kepada para pejuang Palestina bahwa ada tentara Israel sehingga mereka bisa mengatur strategi.

Every day, there were shootings at occupation patrols, grenadethrowing, or explosive detonations. The occupying soldiers responded withextreme force and violence against unarmed civilians, shooting randomly, causing deaths and injuries. Then reinforcements would arrive, imposing curfews, and summoning men to the school where the soldiers would beat and humiliate them, and arrest some. These scenes, sounds, and action srepeated for several days. The resistance grew stronger and bolder, to the point where we would see masked men in kufiyas carrying English rifles or Carl Gustav guns, or grenades, roaming the camp’s alleys, especially near evening.


Yahya Sinwar menyatakan buku ini bukanlah tentang dirinya. Tokoh-tokoh dalam buku inj juga fiktif, tetapi beliau menyatakan peristiwa sejarah dalam buku ini berdasarkan kisah nyata. Latar belakang buku ini mulai dari sekitar 1980-an sebelum peristiwa Intifada Pertama yang pecah pada Oktober 1987. Di dalam buku ini juga dikisahkan bagaimana para aktivis dan pejuang Palestina mengkonsolidasikan kekuatan sebelum Intifada pecah, termasuk mengkonsolidasikan kekuatan dari dalam penjara. Dalam peristiwa Intifada, rakyat Palestina melawan tentara penjajah Israel dengan batu dan botol. Mereka juga membuat bom molotov.

Tak hanya bikin naik darah membaca betapa kejamnya militer Israel, tetapi ada bagian yang bikin menangis dan sedih ketika membaca buku ini. Kalau kalian sering menonton video-video Hamas di media sosial bagaimana mereka menyerang tentara Israel selama genosida sejak 2023, di buku ini juga banyak scene-scene yang mirip dengan video-video tersebut. Termasuk dijelaskan juga kebiasaan pejuang dan rakyat Palestina membaca doa ketika menghadapi penjajah Israel dari salah satu ayat Alquran di QS Yasin ayat 9. Sekitar 2023-2024, viral video pejuang Hamas meletakkan bom di atas tank Israel sembari mengucapkan doa ini.

Teks Arab:
​وَجَعَلْنَا مِنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَٰهُمْ
فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

"He locked the door, placed the key back under the doorstep, and they set off, reciting "And Wehave put before them a barrier and behind them a barrier and covered them,so they do not see"."

Di buku ini juga dijelaskan bagaimana Israel merekrut mata-mata dari kalangan warga Palestina sendiri. Biasanya mereka diberi iming-iming, salah satunya janji untuk dibebaskan dari penjara. Salah satu tokoh yang aku suka dari buku ini adalah Maher. Maher dipenjara dan disiksa oleh pasukan Israel. Dia dijanjikan akan dibebaskan asalkan mau menjadi informan atau mata-mata Israel. Maher setuju. Dia dibebaskan tapi ternyata dia merencanakan hal lain. Sekembalinya ke Gaza, dia berkonsultasi terkait rencananya kepada Sheikh Ahmad. Setelah Sheikh setuju, dia bersama tiga orang lain menuju Jerusalem, mengetuk pintu seorang aparat Israel lalu menghabisinya. Puas banget gue bacanya wkwk.

Selain Ibrahim dan Maher, saya juga suka tokoh bernama Emad Hussein Aql, Abdul Mun'im dan Abu Rashdi. Mereka semua adalah pejuang yang tak takut mati dan terjun langsung melawan pasukan penjajah Israel. Emad adalah sosok pejuang yang sangat dihormati dan menjadi inspirasi banyak orang.

Bagi yang concern dengan isu Palestina dan against genocide in Gaza, buku ini highly recommended. Waktu itu pernah baca postingan di X kalau buku ini akan diterbitkan salah satu penerbit di Indonesia, tapi saya kurang tahu kelanjutannya. Buku ini membuat saya makin respect dengan sosok Yahya Sinwar, may he rest in peace and power. Buku ini terdiri dari dua bagian dengan panjang 400 halaman. Yahya Sinwar rampung menulis buku ini pada Desember 2004 di Penjara Eshel, Beersheva, wilayah Palestina yang diduduki. Last but not least, FREE Palestine!

Jangan lupa baca buku, xoxo!

If men are determined and ready to die, nothing can stand in their way, and victory will surely be theirs.

Comments

Popular Posts