Resensi Buku "Burung-Burung Manyar"
Penulis: Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun: 2014
Tanah air ada di sana, di mana ada cinta dan kedekatan hati, di mana tidak ada manusia menginjak manusia lain.
Tetapi apa guna alam indah, jika penduduknya hanya jadi kuli atau serdadu yang kalah?
Jujur saya enggak suka dengan tokoh utama dalam buku ini karena dia pro-Belanda dan somehow ada bagian dalam buku ini yang menurut saya terlalu mengglorifikasi Belanda. Awalnya saya bilang, "Oh mungkin ini karena baru pertengahan novel, siapa tahu di akhir penulis menegaskan penentangannya terhadap Belanda." Tapi tetap aja saya gak menemukannya. Hehe.
Kendati demikian, ini salah satu karya sastra yang bagus dan wajib dibaca yang menurut saya tetap relate dengan kondisi berkebangsaan dan bernegara kita belakangan. Kondisi-kondisi yang dipaparkan dalam buku ini masih kita temukan hingga hari ini, hanya saja dulu villain-nya bangsa asing dan orang pribumi yang bergabung dengannya. Sekarang, villainnya adalah bangsa sendiri, para pejabat korup dan tidak amanah.
Ini pertama kali saya membaca karya Romo Mangun dan membuat saya ingin membaca karya-karya beliau yang lain. Saya suka cara beliau bercerita, indah dan puitis. Banyak istilah bahasa Jawa dalam buku ini tapi ada catatan kaki yang menjelaskan maksudnya.
Burung-Burung Manyar bersetting pada zaman pra-kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan. Berpusat pada tokoh bernama Setadewa atau Teto yang bergabung dengan tentara Belanda atau NICA yang dipicu kebenciannya terhadap Jepang. NICA bertugas untuk menumpas Jepang yang saat itu sempat menduduki Indonesia. Bapaknya Teto, Kapten Brajabasuki adalah mantan tentara KNIL (tentara Hindia Belanda). Ibunya, Marice, seorang blasteran atau disebut Indo, yang kemudian memilih menjadi gundik perwira Jepang agar suaminya tak dieksekusi. Inilah salah satunya yang memicu kebencian Teto terhadap Jepang.
Tak hanya mengkhianati saudara sebangsanya dengan bergabung menjadi bagian tentara Belanda dan menjadi anak buah Verbruggen, salah satu perwira NICA di Batavia, Teto juga sangat benci dengan Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Agus Salim.
Teto menyukai seorang perempuan yang juga kerabatnya bernama Larasati atau Atik. Atik juga masih memiliki hubungan keluarga dengan Pangeran Hendraningrat di Sala. Tapi kemudian kisah tersebut tak berlanjut karena Teto merasa malu mengungkapkan perasaannya ke Atik karena dia bergabung dengan Belanda, sementara Atik bekerja sebagai sekretaris Sutan Sjahrir.
... Mengapa hidup selalu dibayangi kata tetapi?
Kemudian kita akan diajak menyusuri perjalanan hidup Teto setelah Indonesia merdeka. Menjejaki perjalanan batinnya, sedikit rasa penyelasannya yang ingin ditebusnya tetapi menurutku dia tak pernah benar-benar menyesal pernah menjadi bagian dari Belanda.
Hal yang saya sukai dari buku ini adalah membuat kita berefleksi apakah benar Indonesia benar-benar sudah merdeka? Salah satu kutipan yang membuat saya merenung panjang adalah yang saya cantumkan di awal resensi ini dan satu lagi yang menyatakan: Kalau Indonesia kelak merdeka, negara kita tidak akan kejam.
Kita sudah merdeka selama 81 tahun, tapi melihat berita belakangan ini membuat saya berpikir bahwa justru saat ini kekejaman itu begitu jelas terlihat. Kekejaman yang subtil, yang diam-diam merusak dan menghancurkan. Ketika para pejabat negeri ini tidak lagi peka dan bergerak cepat ketika banyak bencana terjadi di mana-mana. Kebakaran di Kalimantan, gempa di NTT, korban banjir di Sumatra yang sampai saat ini masih belum pulih.
Orang-orang negeri ini pandai mempermanis berita-berita pahit.
Kutipan tersebut juga mengingatkan saya pada perilaku buzzer pemerintah yang selalu membela pemerintah jika pemerintah dikritik. Selalu saja ada kata-kata manis yang keluar dari mereka untuk membela pemerintah.
Apa jeleknya jadi maling? Daripada jadi politikus?
Mengapa selalu segala yang indah berdampingan dengan yang kotor dan berbau?
After all, reading is political. Dan saya suka membaca buku yang mengguhah kesadaran bahwa masih banyak ketidakadilan di sekitar kita. Burung-Burung Manyar diterbitkan pertama kali pada 1981 oleh Penerbit Djambatan. Salah satu karya sastra Indonesia yang wajib dibaca.
Yang lampau adalah lampau. Tidak perlu kita korek-korek kembali lagi.
Manusia tanpa harapan, dia mayat berjalan.


Comments
Post a Comment