Resensi Buku "The Stranger"

 


Judul: The Stranger; Kisah Pria yang Terseret ke Dalam Pembunuhan yang Ganjil

Penulis: Albert Camus

Penerjemah: Andityas Prabantoro

Penerbit: Mizan


Manusia tak mungkin mengalami kenestapaan mutlak

Entahlah kenapa sehabis membaca buku ini, I cried in agony. Padahal saat membaca buku ini, saya baik-baik saja tapi setelah menutup buku, ya buku ini membuat saya merenung dan kemudian menangis. What kind of book I have just read?

Ini buku pertama Albert Camus yang saya baca. Buku yang cukup tipis dan bisa saya selesaikan dalam tiga hari. Sebenarnya bisa selesai sehari atau sekali duduk, karena ada hal yang saya kerjakan, jadi saya tidak bisa fokus membacanya dalam sehari. Membaca buku ini menurut saya butuh keheningan karena seperti menyusuri perjalanan batin seseorang yang tengah menunggu hukuman mati.

Mersault, seorang pria lajang, divonis hukuman mati setelah membunuh pria Arab di dekat pantai ketika berlibur dengan kawan-kawannya Masson dan Raymond, dan pacarnya bernama Marie Cardona. Pria Arab tersebut bukan musuhnya, melainkan musuh kawannya si Raymond. Entah kenapa dia merasa harus membunuh pria tersebut padahal tidak ada keterkaitan masalah dengannya.

Saat sidang berlangsung, aksi Mersault tersebut dikaitkan pula dengan peristiwa pemakaman ibunya, Nyonya Mersault, di mana ketika menghadiri pemakaman tersebut, si Mersault ini tidak menampakkan rasa duka dan tangisan. Atas dasar itulah, dia dinilai sebagai manusia dingin dan tak berperasaan. Sejumlah saksi dihadirkan, termasuk saksi dari panti jompo di mana Nyonya Mersault tinggal sebelum meninggal dunia.

Hari-hari kehilangan nama. Hanya kata-kata kemarin atau besok yang masih punya arti bagiku.

Menjelang hari eksekusinya, seorang pastor dihadirkan untuk Mersault. Segala ceramah pastor tersebut tak menggerakkan hati Mersault untuk bertobat karena dia sendiri menyatakan tidak percaya akan keberadaan Tuhan.

Seperti biasanya, jika aku malas mendengar lebih lama omongan seseorang, aku memasang muka seolah menerima pendapatnya.

Mersault adalah orang yang menurut saya punya pendirian yang tak mudah goyah. Dia layaknya berjalan sendiri menjauh dari kerumunan. Dia memilih jujur sama diri sendiri. Ketika ibunya meninggal, dia jujur dengan dirinya sendiri bahwa dia tidak tahu harus sedih atau menangis, tetapi dia tetap merasa kehilangan karena ibunya adalah orang yang dia sayangi. Hanya saja emosi rasa kehilangan itu tidak ditunjukkannya dengan menangis. Hanya dia sendiri yang memahami perasaannya dan dia tidak perlu validasi dari orang lain bahwa dia sedih atas kematian ibunya.

.. pada akhirnya kita akan terbiasa dengan apa pun.

Begitu pula ketika dia berada di hadapan pengadilan. Dia tidak menunjukkan rasa penyesalan. Dia tetap mengikuti alurnya walaupun dia menolak saran dari kuasa hukumnya untuk berakting di depan pengadilan agar hukumannya bisa diringankan. Dia tetap memilih jujur dengan dirinya, dengan emosinya, kendati itu merugikannya.

Setelah vonis ditetapkan, Mersault berusaha menghadapi detik-detik hari kematiannya dengan tenang. Namun kenyataannya, batinnya tetap bergolak, tetap ada ketakutan di sana bahwa kematian itu begitu dekat dan harus dihadapinya.

Semua orang tahu hidup tak begitu berharga untuk dijalani. Pada dasarnya, aku paham bahwa tak ada bedanya mati umur 30 atau 40 tahun, karena pasti dalam kedua kasus itu, orang-orang lain akan terus hidup, dan seperti itulah yang berlangsung ribuan tahun. Sungguh, tak ada fakta yang lebih jelas. Entah sekarang atau dua puluh tahun lagi, tetap aku yang akan mati.

...keadilan manusia tak ber­arti apa-apa, sedangkan keadilan Tuhan adalah segala-galanya (Omongan si pastor karena si Mersault tidak percaya Tuhan).

Mungkin hal yang membuat saya menangis dan merenung setelah membaca buku ini adalah adanya perasaan hampa yang tiba-tiba muncul setelah menyusuri pergolakan batin seseorang yang sebentar lagi menghadapi kematian. Di ruang penjara yang sempit dan dingin, ada kesepian dan keheningan yang membuat suara hati kita justru menjadi lebih bergema dan nyaring, membuat kita menyadari kelemahan dan ketakberdayaan kita sebagai manusia, melihat kembali ke belakang apa yang telah kita lakukan dalam hidup kita.

Buku selalu ada cara untuk membuat kita melihat ke dalam diri dan The Stranger salah satunya. Walaupun tema buku ini agak berat menurut saya, tapi terjemahan buku ini bagus banget dan cukup mengalir serta mudah dipahami. Keren banget penerjemahnya. So yeah, jangan lupa baca buku, teman-teman. Xoxo!

Comments

Popular Posts