Posts

Showing posts from November, 2016

Kegilaan

Kegilaan yang sama namun kali ini kulakukan dalam kesunyian adalah masih tetap jatuh mencintaimu meski berulang kali kau mengatakan tidak ada lagi pintu yang bisa kumasuki. Mencintaimu adalah kegilaanku. Kegilaanku ialah tak lain jatuh mencintaimu.

Mencintaimu Begitu Jauh

Aku mencintaimu begitu jauh, sejauh jarak yang kuasa kulipat jadi jutaan serpihan debu untuk menemuimu. Batara, sampai kapan aku akan menyimpan bara cinta yang tak kuasa lagi kugenggam? Bara ini makin berapi-api. Dinginmu, kupikir tak akan mampu memadamkannya. Terlanjur kausulut lebih dulu. Kini, ia enggan padam, apalagi hendak jadi abu.

Jika dinginmu tak mampu memadamkannya, aku khawatir angin di musim ini akan memperbesar nyalanya. Sudahlah. Biarkan ia menyala dan membakar apa pun. Sampai ia lelah dan memilih untuk jadi abu saja.

Cinta Merdeka

Aku belajar arti kemerdekaan diri dari dirinya, laki-laki yang sangat merdeka yang pernah kukenal. Dari dia pun aku belajar, mencintai itu seharusnya mencintai saja, merdeka dari kehendak memiliki. Cinta tanpa syarat apa-apa. Aku telah memerdekakan diriku dari kehendak memiliki. Aku mencintai, terlepas memiliki atau tidak. Perasaan ini begitu menenangkan, begitu luas, dan ikhlas.

Aku mencintai dia tanpa kehendak apa-apa, hanya mencintai. Terima kasih, wahai kau lelaki terindah.

Anjing

Dua ekor anjing yang sangat tahu diri. Walaupun manusia mengasosiasikannya dengan makhluk najis, tapi adakalnya manusia harus belajar dari anjing, anjing asli, asli anjing.
Dua ekor yang sangat tahu diri itu sedang asyik tidur di depan teras rumahku, pagi itu. Saat aku membuka pintu ruang tamu, melanjutkan menyapu rumah, dua anjing itu terkejut lantas pergi. Aku pikir mereka merasa enggak enak sama pemilik rumah karena diam-diam tidur di teras depan. Aku tak masalah dan aku tak mengusirnya.
Tapi dengan kesadaran sendiri, mereka pergi. Dan aku sedih. Padahal aku tak mengusirnya. Tak apa mereka tidur di sana. Tak apa.

Sejak hari itu, aku belajar dari anjing.

Ladang Langit

Image
tak perlu lagi melipat jarak untuk menemui rindu cukup di ladang langit ini kutitipkan rintik yang menjelma namamu.
lantas namamu yang tegas dan indah menjelma doa-doaku menjelma laut dan rumput-rumput hijau terkadang menjelma senja di rembang malam








Diamlah Rindu

Duhai rindu. . . Diamlah sesekali Jangan teriak-teriak di hari hujan begini. Percuma.
Tak ada yang mendengarmu karena hati telah jadi tuli.

Rindu

Di rembang petang kekasih, rinduku kerap mekar.
Menguarkan aroma sesak di sekujur raga

Sebanyak Hujan

Sebanyak rintik pada hari hujan ini, sebanyak itu pula aku menyebut namamu dalam hening doa-doa. Hitunglah tetesan hujan ini, sejumlah itulah aku mencintaimu.

For My Father; Six Years Passed Away

Image
Abundance love from a proud daughter for having you. You didn't go to school but you were my university, my grand teacher, my master. Love you to infinity bapak.
25 November 2010-25 November 2016


Nama Dewa

Rupa rasa bahasa kutabung dalam sajak-sajak bertinta merah. Kelak, kau akan membaca halaman langit yang penuh dengan namamu.
Namamu, yang berisi sepenggal nama dewa.

I N D (e) R A

setelah lelah kita bersajak bercerita kau bubuhkan kecupan kecupanmu kerapkali menggugurkan bintang-bintang pada rembang fajar.
lalu, pada dadamu yang resah, kulabuhkan segala pulas aku ingin selalu malam agar aku terus pulas di dadamu
namun ternyata kiamat pagi mengetuk pintu selalu pagi tak lagi senja, tak ada malam aku rindu sekaligus kecupan dan puisimu, bisakah kau bacakanku puisi sekali lagi
 sekali lagi, sebelum aku mati?

Thought-Provoking Book

I love reading a thought-provoking book. Kind of book that get me looking into the deepest ocean of myself. Through that book, I am able to find who truly I am.

Book (In My Opinion)

Image
Book is the shortest getaway destination. When I need vacation but so little time, I would look at my bookshelf, grab a book, and get lost till reality hit me back.







Sleepless

Image