Posts

Buku dan Film 2018

Image
Produktivitas membacaku di tahun 2018 cukup meningkat pesat dibanding tahun 2017. Ini dilihat dari jumlah buku yang aku baca. Tahun 2018, aku membaca 81 buku dan sebagian memang ada yang buku ringan seperti buku tentang makanan dan resepnya. Buku-buku yang kubaca ini sebagian besar dalam format digital karena tahun kemarin aku sering banget pinjam buku di iPusnas, aplikasi perpustakaan digital yang dikembangkan Perpustakaan Nasional. 
Kalau pada tahun 2017 aku lebih banyak menonton film daripada baca buku, tahun ini buku yang aku baca jauh lebih banyak daripada film yang aku tonton yaitu 10 film. 
Well, dari 81 buku yang aku baca, lima buku terbaik menurutku yaitu Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer), Sakuntala (Gunawan Maryanto), Tak Putus Dirundung Malang (Sutan Takdir Alisjahbana), Dari Jawa Menuju Atjeh (Linda Christanty), dan Ekofenomenologi (Saras Dewi). Ini urutannya random aja sih dan lima buku ini aku pilih karena memberiku berbagai perspektif baru dalam memandang dan menyikapi…

Pameran "Surat Pendiri Bangsa"

Image
Beruntung banget rasanya waktu itu disuruh liputan ke Museum Nasional, Minggu, 18 November 2018. Awalnya memang berencana ke sini tapi belum sempat. Alhamdulillah waktu piket Minggu disuruh liput pameran "Surat Pendiri Bangsa". Saya tuh demen banget liputan agenda semacam ini. Heuheuheu


Suasana pagi itu sangat sejuk karena mendung. Museum Nasional juga sangat ramai. Senang banget lihat orang yang antusias berkunjung ke museum. Di lokasi pameran pengunjung juga sangat ramai. Kebanyakan memang anak-anak sekolah, mungkin karena hari libur. Tapi ada juga rombongan keluarga, orang tua mengajak anak-anak mereka berlibur ke museum dan pameran keren ini.




Surat-surat yang dipamerkan adalah surat asli tulisan tangan para pendiri bangsa yaitu Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Kartini, John Lie, dan Ki Hajar Dewantara atau Soewardi Suryaningrat. Surat-surat bersejarah ini ditempatkan dalam bingkai kaca dan dilengkapi dengan keterangan dalam bentuk poster. Ka…

Museum Multatuli

Image
Nama Multatuli atau Edward Dowes Dekker sering kita dengar saat pelajaran sejarah di sekolah dulu. Pengarang Max Havelaar ini memiliki jasa dalam perjuangan melawan kolonialisme. Dia menolak dan mengkritik sistem yang dijalankan pemerintah kolonial saat menjajah Indonesia.
Akhir Oktober 2018, saya dan teman saya Yuana jalan-jalan ke Museum Multatuli yang ada di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Museum ini baru beroperasi sejak awal tahun. Kecil sih, tapi cukup informatif jika kita ingin tahu kiprah Multatuli pada masa kolonial dulu.
Dari Jakarta, salah satu alat transportasi yang bisa digunakan menuju museum ini yaitu menggunakan KRL atau commuter line dengan tujuan Stasiun Rangkasbitung. Durasinya dari Jakarta sekitar dua jam.
Waktu itu kami berangkat dari Stasiun Kebayoran Lama dan tiga kali transit di antaranya di Stasiun Serpong dan Maja. Dari Stasiun Rangkasbitung, kami naik angkot menuju Alun-alun Rangkasbitung dengan ongkos Rp 4 ribu. Nah, lokasi museum ini di dekat alun-alun. Di se…