Resensi Buku "Whiskey When We're Dry"

 



Penulis: John Larison

Bahasa: Inggris


"A woman's best chance in this world is to know the Good Book better than the men in her life."


Vibes yang kerasa di awal membaca buku ini seperti ketika membaca Where the Crawdads Sing. Mungkin karena latar tempat kedua buku ini yang sama-sama di alam liar Amerika dan zaman dulu. Tapi buku Whiskey When We're Dry ini lebih challenging, lebih seru, dan lebih liar. Tentu saja karena genrenya agak beda.

Where the Crawdads Sing adalah thriller crime dan ada love story dan kisah keluarga. Whiskey When We're Dry ini juga ada kisah keluarganya yang didominasi petualangan serta ada aksi dor-dorannya yang sangat intens.

Kalau disuruh milih di antara keduanya, saya gak bisa milih karena saya suka keduanya. Both are my favourites.

Whiskey When We're Dry ini mengisahkan kehidupan Wild West di Amerika pada tahun 1890-an. Jessilyn Harney memulai petualangannya pada usia 17 tahun untuk mencari kakaknya, Noah Harney yang kabur dari rumah setelah bertengkar dengan ayah mereka, Milt Harney, yang dipanggil Pa.

Keluarga Harney tinggal di daerah padang rumput atau ranch, yang dikelilingi pegunungan yang sangat indah. Alam sekitarnya masih sangat liar. Tidak banyak penduduknya. Ibu Noah dan Jess, Rosa, sudah lama meninggal dan mereka tinggal bertiga.

Setelah Pa tiba-tiba meninggal di tengah hutan, Jess tinggal sebatang kara. Dia tidak punya siapa-siapa. Dia pun bertekad pergi mencari kakaknya dan membawanya pulang. Jess pergi bertualang bersama kudanya, Ingrid menyusuri hutan, perbukitan, alam liar. Karena merasa terlalu berbahaya, dia pun mengubah dirinya menjadi laki-laki dan mengganti namanya menjadi Jesse.

Di perjalanan dia banyak bertemu bandit. Tapi Jess juga punya kemampuan menembak dengan senapan yang kemudian menjadi bekalnya menyusuri alam liar.

Jesse menyembunyikan identitasnya karena kakaknya sedang menjadi buronan polisi. Poster kakaknya bertebaran di mana-mana. Siapapun yang berhasil menangkap Noah Harney akan mendapat imbalan besar.

You ain't nothing I ain't seen a hundred times before. Here now, gone tomorrow. Nothing changes. The creeks still run and snows still come.. ---- said stranger yang ditemui Jesse di tengah hutan pada malam hari saat Jesse mengaku sedang memburu Noah Harney as a bounty hunter.

Sampai kemudian Jesse bertemu Gubernur dan bekerja sebagai pengawalnya. Itu mengubah hidupnya, membuatnya semakin mahir menembak dan kemampuannya diakui banyak orang.

Berhasilkan Jess menyelesaikan misinya dan menyembunyikan identitasnya?

So far, ini adalah buku paling seru yang saya baca di awal 2024 ini. It is indeed a page turning and I cant stop read it since the day one i opened the first page.

Sedih. Seru. Menegangkan. Intense.

Bagian sedihnya ketika mengisahkan tentang Pa. Saya paling gak bisa deh kalau sudah menyangkut ayah, pasti sedih dan nangis.

Buku ini banyak adegan ala koboinya, tembak-tembakan dan gebuk-gebukan yang cukup intens dari awal sampai akhir.

Jess berusaha menyembunyikan identitasnya biar gak ketahuan sebagai perempuan juga jadi bagian yang menegangkan. Suatu malam, Jess bermalam di penginapan, yang ternyata adalah rumah bordil. Dia bertemu Elizabeth Annalee Montclair, yang bekerja di rumah bordil tersebut. Elizabeth pun masuk ke kamar Jess dan Elizabeth menggoda Jess untuk ditiduri hahaha.

Melihat Jess bertualang dengan kudanya, saya jadi pengen banget bisa berkuda. Huhuhu. Kehidupan yang keras dan brutal telah membentuk Jess menjadi sosok yang sangat tangguh, pemberani dan kadang brutal karena keterpaksaan.

Saya berharap banget buku ini diadaptasi ke layar lebar. Semoga ya.

Go read this book! You wont regret it.

Xoxo!


"Winning is the only story worth telling, dear."

Comments

Popular Posts