Posts

Showing posts from 2018

Kota Tua Jakarta

Image
Sebelum tinggal dan ngeburuh di ibukota, salah satu tempat yang paling ingin kudatangi adalah kota tua Jakarta. Tak hanya ingin melihat bangunan-bangunannya yang bersejarah, tapi tentunya wisata kuliner. Salah satu makanan yang paling ingin kucicipi waktu itu adalah rujak bebeg sama es selendang mayang.






Berdasarkan info Google, penjual kedua makanan ini banyak di kota tua. Belum lama tinggal di Jakarta, meluncurlah diriku ke tempat ini. Jalan-jalan sendiri lihat para none-none Belanda dan atraksi lainnya. 
Udara waktu itu cukup terik dan menyengat. Tapi kalau sudah namanya keinginan, aku pantang berbalik arah.





Karena waktu itu lagi bokek bin kere, maklum baru pindah kerja dan belum dapat gaji, enggak banyak makanan yang bisa kucicipi. Tapi kapan-kapan aku balik lagi untuk makan lebih banyak dan eksplorasi kawasan kota tua lebih dalam.


Selamat berakhir pekan!





Best Moment in 2017, Bertemu Mark Wiens!

Image
"Mark, I wished you would stay longer here in Lombok. Then I will invite you to my house and cook the meals for you and family," kataku kepada Mark Wiens menjelang kami akan berpisah.
Mark waktu itu hanya dua hari di Lombok dan kami punya waktu singkat untuk bertemu, pada akhir Agustus 2017. Pertemuanku dengan Mark adalah impian yang menjadi nyata. Aku tak pernah menyangka bisa bertemu food vlogger internasional itu. Sama sekali tak menyangka.
Aku telah lama mengikuti Mark di YouTube, dari subscribernya masih ratusan ribu sampai sekarang telah mencapai dua juta lebih. Sekitar 2014, aku mulai mengenal Mark. Sepulang kerja, menonton videonya adalah salah satu hiburan untuk melepas penat dan lelah. Sampai suatu ketika aku berkhayal, "Semoga suatu hari bisa ketemu Mark. Makan bareng dan jalan-jalan di Lombok."
Doa itu pun terkabul. Pada Agustus 2017, aku membuka Instagram dan ternyata Mark sedang berada di Bali. Aku pun iseng komen di unggahannya memintanya datang ke Lomb…

Ketakutan yang Menyiksa

Image
Malam ini aku bergidik hebat. Malam betapa menjadi begitu mengerikan. Semua orang seperti berubah menjadi orang jahat. Tak ada orang baik. Aku memandang orang-orang siap menerkamku. Merampas diriku dan segala yang melekat dalam diriku.

Kukaitkan dan kekencangkan ikatan ranselku. Aku berjalan dengan langkah yang sangat cepat. Malam begitu terang dan lampu jalanan kota tak pernah padam. Tapi langkah tetap kupercepat. Sekarang tujuanku adalah halte pinggir jalan. Tempat paling mengerikan bagiku. Tak pernah kusetakut malam ini. Biasanya aku begitu cuek. Seolah-olah tak ada hal yang kutakutkan. Bagiku dulu tak ada manusia jahat. Tapi sekarang pikiranku berubah.
Aku berdiri di halte. Menunggu bus. Untungnya halte ini cukup benderang. Sialnya aku tetap bergidik. Mataku awas. Kutengok kiri kanan. Kuamati tempat mana yang paling tepat nantinya aku akan melarikan diri jika ada penjahat menghampiri. Beberapa mobil berhenti beberapa meter dari tempat kuberdiri. Aku selalu berpikir mereka berniat me…

Dreams of India by Raghu Rai

Image
Hal-hal kecil cukup membuatku bahagia. Salah satunya mendapatkan kartu anggota Perpustakaan Nasional yang masa berlakunya 10 tahun. Hatiku girang banget saat menerima kartu itu dari petugas beberapa pekan lalu. Sekarang aku menjadi punya akses bebas membaca di Perpustakaan Nasional.
Salah satu ruang baca yang sangat menarik bagiku di lantai 20. Kenapa? Karena di situ khusus buku-buku berbahasa Inggris dan lebih khusus lagi buku-buku dengan latar belakang suatu negara. Section rak buku di lantai ini dibagi berdasarkan nama negara seperti India, Iran, Pakistan, China, Jepang, Eropa dan lain-lain.
Saat kuberkunjung tadi siang, Minggu, 22 Juli 2018, aku memilih buku berjudul Dreams of India karya Raghu Rai. Kenapa India? If you know me so well, you know that India is my dream destination since a long time ago. 
Buku ini adalah buku fotografi yang berisi foto-foto keren jepretan Raghu Rai, fotografer terkenal di India. Karya fotografi Raghu telah dimuat di media-media internasional seperti Ti…

Pameran "Namaku Pram"

Image
Suatu hari, dulu sekali, saya ingat salah seorang teman maya saya pernah berujar, "Menunda membaca Pram (Tetralogi Buru) adalah sebuah dosa." Saya tahu buku itu dan saya memilikinya walaupun modal minjam dan belum lengkap tapi sayangnya saya belum baca sampai detik saya membuat tulisan ini. Saya akui, 'dosa' saya makin menumpuk kalau begini.
Pramoedya Ananta Toer adalah legenda dan pasti semua sepakat. Walaupun mungkin tak semua warga negara Indonesia mengenalnya atau setidaknya tahu perihal dia. 
Saya punya sahabat atau orang tua dari Norwegia yang sangat antusias menyuruh saya membaca Pram sekitar 13 tahun yang lalu. Dia mewajibkan saya membaca Pram dan bahkan waktu itu mengirimkan saya review buku Pram dalam bahasa Inggris. Melalui karya Pram, dia mengenal kondisi sosio politik Indonesia di zaman itu yang menjadi latar belakang cerita Tetralogi Buru.
Bagi saya sosok seorang Pram adalah sosok yang keras hati, keras kepala, teguh pendirian, dan berani bersuara. Itu…