Museum Multatuli

Kutipan terdahsyat

Nama Multatuli atau Edward Dowes Dekker sering kita dengar saat pelajaran sejarah di sekolah dulu. Pengarang Max Havelaar ini memiliki jasa dalam perjuangan melawan kolonialisme. Dia menolak dan mengkritik sistem yang dijalankan pemerintah kolonial saat menjajah Indonesia.

Akhir Oktober 2018, saya dan teman saya Yuana jalan-jalan ke Museum Multatuli yang ada di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Museum ini baru beroperasi sejak awal tahun. Kecil sih, tapi cukup informatif jika kita ingin tahu kiprah Multatuli pada masa kolonial dulu.

Dari Jakarta, salah satu alat transportasi yang bisa digunakan menuju museum ini yaitu menggunakan KRL atau commuter line dengan tujuan Stasiun Rangkasbitung. Durasinya dari Jakarta sekitar dua jam.

Waktu itu kami berangkat dari Stasiun Kebayoran Lama dan tiga kali transit di antaranya di Stasiun Serpong dan Maja. Dari Stasiun Rangkasbitung, kami naik angkot menuju Alun-alun Rangkasbitung dengan ongkos Rp 4 ribu. Nah, lokasi museum ini di dekat alun-alun. Di sekitar alun-alun juga ada Kantor Bupati Lebak, Kantor DPRD Kabupaten Lebak. Bangunan ini sepertinya bangunan peninggalan zaman kolonial dulu. Di dekat masjid, ada juga masih berdiri Radio Multatuli.






Setelah menikmati bakso ikan dan es gula aren (sumpah enak banget ini, pas pulang balik lagi ke warung ini cuma buat beli es gula aren haha), barulah kami menjajal museum. Awalnya kami kira museum tutup karena waktu baca di Google, disebutkan kalau Sabtu tutup. Tapi alhamdulilah ternyata buka dan ini gratis. Kami pun masuk dengan antusias.

Saat pintu museum dibuka, kita akan disambut dengan kutipan dari Multatuli. Di sisi kiri, ada patung Multatuli yang tidak terlalu besar. Di ruangan selanjutnya, ditampilkan video sejarah kedatangan Belanda dan beberapa perang perlawanan terhadap kolonial. Di sebelah kiri dipajang miniatur kapal yang ditumpangi para penjajah menuju Indonesia. 








Di ruangan lainnya, ada testimoni para tokoh tentang Multatuli dan bukunya, Max Havelaar. Salah satunya adalah testimoni dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Buku Max Havelaar dalam beberapa bahasa juga dipajang di museum ini. Sayang saya belum punya dan baca buku ini. 









Bakso ikan super enak!

Es gula aren. Sumpah super enak!

Karena waktu itu sudah sore dan mau tutup, ada satu ruangan yang enggak bisa saya jajal. Saya cuma melihat sekilas saja dan belum sempat membaca historiografi yang ditampilkan di ruang belakang itu. Mungkin kapan-kapan ada waktu ke sana lagi. Tadinya kami berencana ke rumah Multatuli yang masih di sekitar kota itu, tapi karena hujan dan takut kemalaman sampai Jakarta, kunjungan kami batalkan.

Museum adalah salah satu tempat wisata favoritku. Selain jalan-jalan untuk refreshing, dapat wawasan baru juga. Ayo ke museum! Hehe


Bisa juga ditonton videonya. Klik di sini yo. Makasiiii






Comments

Popular Posts