Review "My Cup of Tea"






Judul                    : My Cup Of Tea (Ada Cinta dalam Secangkir Teh)
Penulis                 : Nia Nurdiansyah
Editor                  : Jia Effendie
Ilustrasi Isi          : Fajar Ramayel
Penerbit               : GagasMedia
Halaman             : 354
ISBN                    : 979-780-632-4

Sepertinya Mei ini bener-bener less-productive month buatku. Bulan Mei telah memasuki pekan-pekan terakhirnya, and do you know? Baru satu buku yang saya baca di bulan ini. Itupun 'terpaksa' membaca karena dikejar deadline posting review setelah dapat giveaway dari OMBuku sebulan yang lalu. Buku yang seharusnya aku baca (Perempuan di Titik Nol-nya Nawal El Sadaawi) aku skip dulu biar postingan reviewnya nggak meleset dari deadline. Karena OM Buku sudah mewanti-wanti agar reviewnya tepat waktu, tanggal 18 Mei. Beberapa kesibukan di bulan ini membuatku menunda kegiatan bacaku.

Buku ini pun aku baca seharian. Dari pagi, diselingi beberapa tugas lain yang harus aku selesaikan, aku lanjut lagi baca malamnya sampai dini hari. Marathon deh ini. Tapi anyway buku ini lumayan mengasyikkan untuk dibaca karena ceritanya mengalir cukup baik. My Cup of Tea adalah sebuah novel yang ending-nya sudah bisa ketebak dari awal. Semacam sinetron atau FTV yang akhir ceritanya mudah ditebak. Walaupun ada beberapa kejutan di dalamnya, tapi pada akhirnya penutupnya sama juga seperti tebakanku sedari awal.

Aku cukup terbawa dengan cerita yang ada dalam fiksi metropop ini. Mungkin karena aku melihat sebagian diriku atau kisahku ada di dalam kisah Shereen #uppsss. Tapi yang jelas menurutku cerita kisah cinta dua orang sahabat, Shereen dan Dipi ini drama banget, banget. Apalagi adegan saat Shereen memergoki pacarnya, Art yang ketahuan selingkuh dan balik lagi dengan mantan pacarnya, Amaya. Sumpah, ini drama banget. Di bagian ini membuatku cukup emosional, rasanya saya ikut hancur berkeping-keping menyaksikan hal itu.

Shereen dan Dipi bersahabat sejak lama, saat Shereen duduk di Kelas Enam SD dan Dipi Kelas Tiga SD. Mereka bertetangga dan bersekolah di sekolah yang sama. Dipi pada saat dewasanya menjadi seorang pastry chef handal yang bercita-cita mengenalkan kue tradisional Indonesia ke kancah internasional. Sedangkan Shereen adalah interior designer yang cukup berprestasi dalam kariernya. Sejak lama Dipi menyukasi Shereen dan menyimpan rapi perasaannya. Ia selalu cemburu jika Shereen dekat dengan cowok lain.

Shereen pun berpacaran dengan Art, Artega Sudirman yang seorang arsitek tampan, karier cemerlang, dan digandrungi perempuan. Meskipun berhasil mendapatkan Art, Shereen tidak bisa meyakini perasannnya bahwa Art benar-benar serius dengannya. Sampai pada suatu hari ia memergoki Art bersama Amaya di apartemennya di Seoul, Korea Selatan. Art melanjutkan kuliah di Seoul dan sebelum berangkat ke Seoul ia berjanji tidak akan meninggalkan Shereen. Beberapa bulan kemudian Shereen menyusul Art ke Seoul dan perselingkuhan itu pun terkuak. Di adegan ini rasanya pengen ngasah pisau. Hehehe

Dengan kehancuran hati yang berkeping-keping, Shereen kembali ke Indonesia. Dan di dalam pesawat, ia berkenalan dengan pria Korea Selatan, Park Min Ho, seorang hotelier kece yang tampangnya nggak jauh beda sama pemain drama Korea yang buat semua orang jejeritan itu.  Mereka pun kemudian menjadi dekat dan berpacaran. It is sooooo drama. Padahal saya suka melihat hubungan Shareen dengan Park Min Ho, apalagi Park Min Ho yang seorang duda itu ingin menjalin hubungan serius dengan Shareen dan sempat membawa Shareen ke Korea Selatan untuk mengenalkannya dengan keluarganya. Tapi akhirnya ia menyadari suatu hal dan rela melepaskan Shareen.

Hal yang saya suka dari sosok seorang Shareen adalah dia seorang perempuan yang cukup kuat dan tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan setelah dicampakkan Art. Dia memang sempat merasakan keterpurukan, pekerjaannya berantakan, dan merasakan kesedihan, tapi ia lantas menyadari agar tidak terus menerus terpuruk, kemudian bangkit dan berjanji menjadi orang yang lebih baik.  

Novel ini diceritakan dengan menggunakan sudut pandang (point of view/PoV) campuran. Di bab-bab pertama menggunana PoV orang ketiga. Dan di bab-bab selanjutnya menggunakan PoV orang pertama dengan Dipi dan Shereen secara bergantian sebagai pencerita. Kadang di salah satu bab ada juga yang menggunakan PoV campuran; PoV orang pertama lantas tiba-tiba melompat ke PoV orang ketiga. Rada membingungkan sih, tapi tetap bisa dipahami.

Ada juga beberapa typo di buku ini seperti “bowling” tapi ditulis boling (101), “menggelar” tapi ditulis mengelar (199), “petualangan” ditulis pertualangan (210), “aku” jadi taku (218), “terbesit” jd tebesit (219), dan “buatan” ditulis buat (326). Ada bebebrapa kalimat yang juga kekurangan kata; misalnya dalam kalimat: “Memang pergi berdua Art ke tempat asing yang jauh....” Seharusnya ada kata sambung (bersama/dengan) setelah kata “berdua”. At least buku ini cukup menghibur buatku. Di buku ini saya juga suka dengan teh-teh racikan Dipi, sepertinya cukup menyegarkan, mungkin karena diracik dengan penuh perasaan. Three of five stars for this novel.

NB:
Terima kasih banyak OM Buku atas giveaway buku ini. Ditunggu giveaway berikutnya ya. XOXO



Comments