Membayangkan Kesedihan Lady Diana


Saya baru menyelesaikan membaca buku biografi singkat Lady Diana atau Putri Diana. Dan atmosfer kesedihan itu masih terasa sampai saat ini, saat aku menuliskan catatan ini. Tepatnya aku membaca buku itu sejak Selasa (3/7/2018) malam dan bisa kuselesaikan pagi harinya. 

Diana adalah sosok perempuan yang sangat cantik dan anggun. Sepanjang ia menikah dengan Pangeran Charles, ia selalu menjadi sorotan publik. Mata kamera selalu mengikutinya kemanapun ia berjalan.

Pernikahannya dengan pewaris tahta kerajaan Inggris pada Juli 1981 menyorot perhatian dunia. Acara pernikahannya ditonton puluhan juta orang sedunia melalui siaran televisi. Tapi siapa sangka, pernikahan bak dalam cerita dongeng itu justru tak membahagiakan Diana. Kisah cinta yang sayangnya tak berakhir bahagia.

Diana seperti menanggung unrequited love, cinta tak berbalas. Walaupun pada awalnya Charles yang melamarnya dan menyatakan ingin menikahinya tapi sepertinya cinta dan hati Charles tak bisa ia dapatkan. How could she bear that kind of love in her marriage? 

Hal yang menyesakkan bagi saya ialah ketika baru saja menikah dan dalam masa bulan madu, Charles justru lebih memilih pergi memancing daripada menemani istrinya. Saat Diana meminta Charles agar mereka menghabiskan lebih banyak waktu berdua, Charles justru menyodorkan sebuah buku filsafat untuk dibaca Diana. Padahal Diana tak tertarik dengan ilmu-ilmu filsafat. Suami macam apa yang mengharuskan istrinya mengikuti seleranya? Saya pun kesal.

Publik tahu salah satu pemicu retaknya pernikahan pasangan kerajaan inip karena hadirnya Camilla Parker Bowles. Dia mantannya Charles yang tak bisa ia lupakan dan masih terus berhubungan walaupun telah menikah. Diana tahu itu dan sempat ingin membatalkan pernikahannya menjelang beberapa hari sebelumnya. Tapi kakaknya melarang.

Kesabaran Diana telah habis begitu juga perasaan cintanya ke Charles menguap dan langsung tandas setelah ia melahirkan Pangeran Harry. Dalam buku itu diceritakan Charles sangat ingin anak perempuan. Diana pun hamil dan setelah melahirkan ternyata anak keduanya laki-laki. Charles berkomentar, "It's a boy," yang menandakan kekecewaannya. 

Melihat reaksi suaminya, Diana mengatakan, "Kesabaranku sudah sampai di titik penghabisan dan tak ada lagi rasa cinta yang tersisa." 

Hmmm. Sedih kan. 

Buku ini menceritakan kehidupan Diana dan latar belakangnya. Mulai dari masa remaja sampai kematiannya di Paris, Francis. Pada bagian ini aku juga sedih. Ternyata Dodi Al Fayed itu anak pemilik Harrods, jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Inggris. Sebelum sama Dodi, Diana sempat menjalin hubungan dengan dokter asal Pakistan.

Pelajarannya adalah kisah indah yang nampak di permukaan itu belum tentu selalu membahagiakan. Not every fairy tale has an happy ending. We often look their grass are greener while we always forget to pour ours. 

Last but not least, rest in peace, My Lady. You had touched million souls. And thank you for that. 



Comments