Just a Breath Away - Review Film

Source: Pinterest


Gempa melanda kota Paris. Tak lama setelahnya, tiba-tiba ombak asap yang entah dari mana asalnya menyapu seluruh kota. Tak ada yang bisa bertahan hidup. Mereka yang cukup lama menghirup asap akan tewas. Mayat pun bertebaran di jalan-jalan.

Mereka yang bisa bertahan hidup adalah mereka yang tempat tinggalnya cukup tinggi. Sepasang suami istri yang telah berusia lanjut yang tinggal di satu blok apartemen dengan pasangan Mathieu dan Anna tetap hidup karena tinggal di lantai paling atas. 

Mathieu dan Anna pun mengungsi ke rumah mereka. Namun Anna dan Mathieu meninggalkan anaknya Sarah di rumahnya. Sarah mengidap penyakit langka dan tinggal di dalam kapsul. Dia tak boleh keluar dari kapsul karena dunia di luar kapsul dianggap tak steril dan bisa mengancam hidupnya.

Kapsul itu pun menggunakan baterai dan harus diganti jika dayanya segera habis. Sarah berkomunikasi dengan orang tuanya melalui walkie talkie yang dihubungkan dengan kapsul.

Keadaaan semakin memburuk. Asap semakin naik. Mathieu dan Anna berusaha keluar membawa Sarah. Mereka pun berusaha mencari jaket pengaman untuk Sarah di luar.

Mereka pun harus bergantung pada oksigen dan tak bisa berlama-lama di luar. Jika oksigen habis, maka nyawa mereka terancam dan akan mati di jalanan karena menghirup asap.

Pengalaman menonton film ini adalah ikut merasakan sesak karena paparan asap. Gelap di seluruh kota dan manusia hanya bisa bergantung dengan oksigen. Tak ada petugas penyelamatan. Manusia dibiarkan mati terkapar sia-sia.

Bagi saya, film ini semacam satir bahwa oksigen atau udara bersih adalah faktor sangat vital bagi kehidupan. Suatu hari jika manusia tak bisa menghirup udara bersih, maka perang pun bisa berpotensi terjadi dengan perebutan oksigen. Udara bersih bisa jadi akan dikapitalisasi sedemikian rupa. 

Film ini juga memuat pesan mengajak manusia sama-sama menjaga alam. Jangan dirusak karena yang rugi adalah manusia sendiri. Dan kerusakan alam mengancam eksistensi manusia.

Comments

Popular Posts