Penjual Gerabah Keliling : Dulu Dipikul, Sekarang Menggunakan Sepeda Motor



Dusun Penakak dan sekitarnya yang terletak di desa Masbagik Timur, kecamatan Masbagik, Lombok Timur (Lotim) terkenal dengan sentra industri gerabahnya. Sejak puluhan tahun lalu, perempuan di kampung-kampung di sekitarnya bekerja sebagai pembuat gerabah. Namun dahulu belum ada art shop yang berdiri untuk menjual dan memamerkan hasil kerajinan tersebut. Model dan desain gerabah pun masih sangat tradisional dan hanya dibuat sebagai alat pelengkap rumah tangga seperti cobek, tungku, tempayan (tepaq), penggorengan (kete), alat penanak nasi (kemeq) dan lain sebagainya.

Waktu itu, laki-laki di kampung-kampung di sekitarnya bekerja menjual berbagai hasil gerabah tersebut dengan memikulnya menggunakan keranjang dan keliling berjalan kaki  ke berbagai tempat di Lombok. Karena zaman dulu jarang ada kendaraan, mereka terpaksa berjalan dari rumah untuk menjual gerabah tersebut. Berkeliling dengan memikul barang tersebut disebut orang tau dengan bedea. Mereka juga terkadang menjualnya dengan sistem barter, yaitu barang gerabah ditukar dengan beras, jagung, ubi, dan singkong.

Seiring dengan perkembangan zaman dan majunya teknologi, hal tersebut juga berpengaruh terhadap para penjaja gerabah. Beberapa tahun belakangan ini, sekitar 30 lebih laki-laki di sekitar desa penghasil gerabah berkeliling menjual barang dagangannya ke berbagai tempat dengan menggunakan sepeda motor. Mereka mendesain sebuah tempat diatas sepeda motor bagian belakang mereka dari kayu yang dimana  digunakan untuk menaruh gerabah. Setelah subuh, mereka siap berpencar berangkat menuju berbagai tempat untuk menjual gerabahnya. 



Para penjual gerabah keliling mulai berjualan sekitar jam tujuh pagi. Walaupun masih ada beberapa orang tua yang notabene tidak bisa mengendarai sepeda motor masih keliling menjual gerabah dengan metode tradisional. Barang yang dijual pun tetap sama seperti yang tersebut diatas. Muliadi (31) juga salah seorang penjual gerabah keliling dengan menggunakan sepeda motor. Sebelum memiliki sepeda motor, ia dulunya menjual gerabahnya dengan memikulnya berkeliling ke berbagai tempat seperti Lombok Tengah dan terkadang barangnya ditukar dengan beras. Namun setelah ia menjadi TKI di Malaysia, ia berhasil membeli sepeda motor dan menggunakannya untuk berkeliling menjual gerabah ke berbagai tempat baik di sekitar Lotim dan Loteng.


Sewaktu usaha gerabah sedang maju di Masbagik Timur, para pengerajin gerabah jarang yang membuat cobek, tungku dan sebagainya. Karena para pengusaha gerabah yang mempunyai art shop banyak yang memesan gerabah dengan berbagai desain unik untuk di ekspor ke luat negeri. Namun karena belakangan ini usaha gerabah dalam kondisi sepi, maka para pengerajin gerabah beralih membuat barang gerabah untuk dijual oleh para penjual keliling tersebut.

Comments