Review "Na Willa"




Judul               : Na Willa (Serial Catatan Kemarin)
Penulis            : Reda Gaudiamo
Ilustrasi          : Cecillia Hidayat
Editor             : Thomas Subagyo
Desain             : Enrico Halim
Penerbit          : aikon
Tahun             : 2012
ISBN               : 978-602-979-221-8



Kehidupan kita sehari-hari belakangan ini hampir setiap hari dikejutkan dengan berbagai berita-berita menghebohkan dan tentang persoalan-persoalan berat. Berita korupsi, pembunuhan, bentrokan, pelanggaran hukum, dan seabreg persoalan berat lainnya. Hidup pun menjadi sangatlah berat jika dipikirkan. Sepertinya hidup ini memang tak putus dirundung persoalan-persoalan yang tak terselesaikan.

Sejenak dapatlah kita melupakan seabreg persoalan hidup ini. Cobalah kita membaca kehidupan ini dari sudut pandang seorang anak kecil yang masih polos. Sejenak kita bisa tertawa lepas mengingat kelucuan dan keceriaan masa kecil kita melalui catatan seorang Na Willa, seorang bocah usia TK dengan cerita-ceritanya yang penuh keceriaan anak sebayanya.

Buku ini mengisahkan tentang masa kanak-kanank Na Willa, bocah perempuan berusia lima tahun yang tinggal di Surabaya. Setting waktu dalam buku ini seputar tahun 1960-an. Na Willa tinggal bersama Mak dan Mbok di rumahnya di sebuah perkampungan di Surabaya. Bapak atau dipanggilnya Pak bekerja di kapal sehingga jarang pulang.

Na Willa mempunyai teman bernama Farida atau Ida yang tidak bisa mengucapkan huruf 'r'. Na Willa ingin menjadi seperti Mak ketika sudah besar nanti, dengan rambut berombak atau disebutnya berbelok-belok. Tapi Mbok, pembantu di rumahnya mengatakan ia akan tumbuh besar seperti Pak dengan rambut lurus dan kaku serta berkulit cokelat dan bermata sipit.

Ia pun nangis sejadi-jadinya, tak putus-putus sampai Mak pulang dari pasar. Menceritakan segala hal dengan sudut pandang anak kecil memang sangat lucu dan menarik. Seperti kata-kata di bawah ini:

“Kamu apakan dia?” tanya Mak sambil menunjuk aku. Mbok langsung duduk bersimpuh, dan dia ceritakan apa yang telah terjadi. Mak bertanya-tanya, Mbok menjawab-jawab. (Halaman 11)

Membaca Na Willa juga mengembalikan memoriku tentang masa kanak-kanak yang sering main masak-masakan. Seperti waktu dia menceritakan bahwa dia memiliki alat masak-masakan dari tanah liat seperti cobek, ulekan, dan belanga.

“Aku dan Farida selalu memasak dengan perlengkapan itu. Memotong daun kembang sepatu. Diremas-remas sambil diberi sedikit air, sebentar saja jadi minyak. Bunganya diiris, jadi sambal. Lalu daun cemara dipitil-pitil, jadi buncis. Kadang-kadang kami buat pecel. Bumbunya pakai bata merah yang ditumbuk halus. Kerupuknya, kulit kerang putih kecil yang sering muncul di balik gundukan pasir.”( Halaman 13)

“Tapi aku bosan main boneka dan bikin pecel pakai batu uleg, goreng genteng pakai minyak kembang sepatu, bubur pasir...” (Halaman 49)

Selain Farida, teman Na Willa lainnya ada Dul yang jago main kelereng, Bud yang ingusan, Marni, Yono yang curang, Warno, dan Tri. Tapi Na Willa tidak suka dengan Marni, Yono, Warno, dan Tri, anak dari Pak Wardiman. Warno sering meneriakinya dengan Asu Cino. Ketika keluarga Wardiman pindah, Willa sangat senang.

Hal paling lucu di buku ini saat Na Willa mengambil radio Mak dan berencana membongkarnya. Ia penasaran dengan suara orang-orang yang kerap di dengarnya mengalun dari radio. LOL. Saya jadi teringat waktu saya kecil dulu, saya pernah ingin membongkar tivi dan masuk ke dalamnya agar bisa muncul di tivi. Hahahahahah

Walaupun Na Willa sedikit nakal, namanya juga anak-anak, tapi ia kritis sekali. Selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Mak-nya. Ia pun berbuat nakal karena beralasan, ia membalas perbuatan orang yang menyakitinya. Saat baru masuk sekolah, ia menendang dan menjambak rambut temannya karena ia ditertawakan dan dijambak terlebih dulu oleh temannya dan ia pun membalas dengan hal yang sama.

Rasanya buku ini sangat pas dibaca oleh siapapun; baik anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa. Selain menghibur juga banyak hal yang bisa kita pelajari dari sisi seorang anak kecil. Oh iya, saya paling sebel sama tokoh Ibu Tini. Seharusnya guru tidak bersikap demikian, galak dan tidak pernah tersenyum ramah. Buku ini juga harus dibaca para guru agar tidak seperti Ibu Tini. Lima bintang untuk Na Willa. Favorite! Ini adalah kali kedua saya membaca Na Willa kemudian menulis reviewnya. Happy reading !

Comments