Dari Halaman Gereja Katedral, Kudengar Lantunan Alquran

Gereja Katedral Jakarta dipotret dari halaman Masjid Istiqlal. Minggu, 24 Desember 2017

Suatu pagi pada Minggu, 24 Desember 2017, matahari bersinar cukup terik di Jakarta. Pada hari menjelang perayaan Natal itu, jalan di depan Gereja Katedral dan juga Masjid Istiqlal cukup padat. Para anggota polisi telah mulai datang dan berjaga untuk persiapan pengamanan Natal dan juga membantu kelancaran arus lalu lintas.

Aku masuk ke dalam halaman Gereja Katedral. Awalnya sedikit khawatir, tentu karena aku memakai jilbab. Aku khawatir orang akan memandangiku saat masuk ke dalam halaman Katedral. Maklum, ini baru pertama kalinya aku meliput persiapan Natal dan baru pertama kali ke Gereja Katedral. Ternyata setelah aku masuk, ada beberapa wartawati yang juga berjilbab.

Setelah wawancara dan memantau persiapan Natal serta sibuk menulis berita, aku tetap diam di dalam Katedral. Karena aku harus memantau dan meliput Misa Natal yang akan dilaksanakan pada sore harinya hingga malam hari.

Dekorasi Natal 2017 di Gereja Katedral 

Lokasi Katedral berhadapan dengan Masjid Istiqlal. Jika berada di halaman Istiqlal, kita akan bisa melihat megahnya bangunan Katedral dengan kubah-kubah berbentuk runcing berwarna gading. Begitu pun sebaliknya. Dari halaman gereja, kita akan bisa melihat jelas megahnya Masjid Istiqlal yang disebut-sebut masjid terbesar di Asia Tenggara itu.

Berdekatannya dua lokasi tempat ibadah dua agama ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat kita memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan. Begitulah seharusnya hidup, saling berdampingan dan saling mendukung satu sama lain walaupun kita berbeda dalam keyakinan. Sangat disayangkan masih ada orang-orang tak bertanggung jawab yang kadang sibuk  dan senang mengadu domba warga hanya atas dasar keyakinan yang berbeda.

Tak hanya sekadar bangunan. Pada saat perayaan hari besar keagamaan, Masjid Istiqlal akan membuka lahan parkirnya untuk umat Nasrani yang akan mengikuti misa di Katedral. Begitu pun saat Hari Raya Idul Fitri, Katedral akan mengizinkan halamannya untuk parkir kendaraan umat Muslim yang akan salat Idul Fitri.

Siang itu aku begitu merasa dekat dengan Tuhanku, Allah SWT. Dari tempat dudukku di halaman gereja, terdengar jelas untaian bacaan ayat suci Alquran yang berkumandang dari Masjid Istiqlal. Lantunan yang sangat merdu, bagaikan air yang mengalir tenang melewati sungai-sungai jiwaku. Air mataku hampir tumpah. Aku merinding. Tak henti aku memuji-Nya, Maha Suci Engkau, Yaa Allah.. Bisikku saat itu.

Menjelang perayaan misa pertama pada pukul 17.00 WIB, aku masuk ke dalam ruang ibadah utama Gereja Katedral. Saat itu ada Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latif menyampaikan pidatonya di hadapan umat Nasrani dari mimbar. Ada juga Dewan Pengarah UKP-PIP, Try Sutrisno.

Yudi menyampaikan pidato soal toleransi dan keberagaman yang mengundang tepuk tangan riuh dari para jemaat. Yudi Latif mengenakan peci berwarna hitam dan surban yang disampirkan di lehernya.

"Kami datang untuk bersambung rasa. Berbagi kebahagiaan dan harapan dan kasih sayang dalam suasana Natal di seluruh katedral dan gereja di tanah air," jelasnya saat itu.

Selama ini kerap muncul kecurigaan di antara umat beragama. Hal itu ia analogikan sebagai ranting kering yang mudah tersulut dan terbakar api. "Ranting-ranting yang mudah terbakar. Dan tanah-tanah mulai terbelah. Natal adalah semacam hujan dan kasih sayang yang menyiram rumput kering itu menjadi hijau kembali dan menbawa Indonesia kembali hijau," kata dia.

Pesan moral Natal ialah mengajak manusia kembali pada kaidah kasih sayang yang merupakan ajaran inti agama. Ia mengatakan setiap kita, warga negara Indonesia boleh berbeda agama dan keyakinan. Dan Pancasila menjamin setiap warga dari semua agama untuk mengekspresikan keyakinannya.

Di akhir pidatonya, Yudi menyampaikan dengan semangat kasih sayang Natal dan Pancasila, semua warna bersatu dan bersambung rasa. "Semua rezeki bisa berbagi demi kebahagiaan hidup Indonesia yang majemuk. Dari sanubari kami yang terdalam kami mengucapkan selamat Natal dan tahun baru. Damai di hati, damai di bumi. Dan semoga semua makhluk bahagia dan sentosa," ucapnya.





Dengan pengalaman liputan Natal di Katedral itu, aku semakin menghargai perbedaan. Tak perlu membenci apalagi memusuhi yang berbeda dengan kita. Sudahi saja perdebatan soal ucapan Selamat Natal itu. Cukuplah menghargai perbedaan itu. Dan saling mengasihi tanpa melihat dari agama apa mereka berasal. Maka kedamaian akan tercipta.

Pengalaman yang sangat mengesankan buatku. Alhamdulillah.












Comments