Menyaksikan Pernikahan Pengantin India (Trip Kuala Lumpur-Singapore Part 4)


Pengantin India


Sebelum berangkat ke Kuala Lumpur pada Mei 2015, aku sama sekali tak tahu tempat-tempat wisata yang wajib dikunjungi selain KLCC yang terkenal dengan menara kembar Petronas-nya. Baru setelah sampai di hotel, aku dan Indri, Googling tempat wisata apa saja yang harus kami kunjungi esok harinya.

Tujuan pertama kami adalah Batu Caves yang ada di Gombak, Selangor. Memasuki kawasan ini, kami disambut dengan pernak-pernik berciri khas India. Mengingat Batu Caves adalah tempat persembahyangan umat Hindu.

Menunggu MRT menuju Stasiun Gombak, Batu Caves

MRT

Sebelum masuk ke area utama dimana berdiri megah dan menjulang patung emas Dewa Murugan (sumber: Wikipedia), di dekat pintu masuk berdiri tegak patung Hanuman berwarna hijau. Di dekatnya, ada tempat persembahyangan umat Hindu yang bersih dan megah.

Pintu gerbang

The giant Hanuman

Mejeng di teras kuil

Nah di kuil inilah pengantin India itu menikah

Kami pun naik ke atas. Saat itu, banyak perempuan dewasa, remaja, dan anak-anak yang memakai sari. Rupanya akan ada pesta pernikahan di dalam kuil itu. Aku yang sangat tertarik dengan budaya India tak mau ketinggalan. Aku ikut menyaksikan langsung jalannya prosesi pernikahan pengantin India itu. Walaupun aku cuma turis, aku mencoba melesak masuk menembus kerumunan para tamu undangan.

Tiap ada umat Hindu yang masuk ke kuil ini, mereka berdoa dulu di depan patung Ganesha ini.

Pemain musik tradisional. Entah mereka ini cuma mengiringi pengantin atau memang tiap hari di sini. Aku enggak tahu.

Di dalam kuil

Ooh ternyata sama seperti adegan pernikahan di film-film India yang sering kutonton. Ada prosesi mengelilingi api dan pakaian pengantin laki dan perempuan diikat. Upacara pernikahan itu juga diiringi dengan musik tradisional yang langsung dimainkan di dekat acara pernikahan. Seru dan memorable.



Iring-iringan pengantin memasuki kuil


Tamu atau mungkin keluarga kedua mempelai

Pengantin baru

Setelah acara pernikahan selesai barulah aku dan Indri masuk ke dalam area utama. Area yang dipenuhi PKL tapi tertata dengan baik. Pedagang dominan menjual masakan dan makanan khas India. Termasuk juga bertebaran penjual manisan (sweet). Awalnya ingin mencoba tapi lama-lama jadi enggak berselera. Hehehe.

Salah satu pengalaman mengesalkan saat aku mendekati salah satu kios tapi malah disuruh pergi sama pedagangnya. Ngomongnya pakai bahasa India. Intinya tuh enggak boleh dekat-dekat kios mereka kalau enggak belanja. Hadeeuh.

Pengalaman lucunya waktu mau keluar, aku nawar souvenir ke salah satu pedagang India yang sudah cukup tua. Interaksi kami hanya pakai bahasa isyarat karena dia enggak bisa bahasa Melayu dan Inggris. Dia ngomong hanya pakai bahasa India. Waktu aku nawar, dia balas pakai bahasa isyarat dengan meletakkan telapak tangannya di leher. Intinya dia enggak bisa ngasi harga sesuai tawaranku karena kalau dia ngasi, dia bisa digorok sama bosnya. Hahaha. Kocak.

Itu serunya traveling. Bisa menemukan hal-hal tak terduga.

Setelah pesta pernikahan (tamu tak diundang wkwkwk)

Aku dan Mbak Indri. She is my traveling companion. 







Comments