Teman yang Hilang dan Rasa Bersalahku (Trip Kuala Lumpur-Singapore Part 3)

Di depan bangunan Sultan Abdul Samad, Kuala Lumpur. Mei 2015.

Jarak tulisan perjalananku ke Kuala Lumpur-Singapore bagian kedua dan ketiga ini sangat jauh. Setelah bertahun-tahun, baru akhirnya aku menyempatkan diri menulis lagi. Hahahah... Tulisan ini juga untuk memompa semangatku biar lebih giat nabung untuk mewujudkan rencana traveling selanjutnya.

Banyak kisah dan cerita saat aku pertama kali menginjakkan kaki di luar negeri, walaupun sekadar ke Malaysia sama Singapura tapi itu salah satu pencapaian buatku karena mimpi ke luar negeri tercapai. Enggak salah jika kemudian menjelang pesawat yang kutumpangi mendarat di KLIA 2, mataku berkaca-kaca. Dari jendela pesawat, kulihat hamparan hijau kebun kelapa sawit di sepanjang daratan. Dalam batin aku berkata, "Yaa Allah itu luar negeri dan sebentar lagi kakiku akan menginjak daratannya."

Aku menangis dan diam-diam mengusap air mataku karena malu dilihat orang. Aku ingat almarhum bapakku dan berbisik, "Bapak, anakmu telah sampai di luar negeri. Bukan jadi TKI tapi ke sini liburan. Keren kan." Dan aku makin sedih karena aku enggak bisa cerita pengalaman travelingku secara langsung sama bapak.

Alhamdulillah pesawat kami mendarat mulus pada sore hari. Saat itu aku dan Indri langsung naik bus menuju KL Sentral. Makan dan jalan-jalan sebentar kemudian kami lanjut dengan LRT ke kawasan Bukit Bintang, tempat kami menginap. Setelah beberapa kali tanya sana-sini, akhirnya ketemu juga hotel itu.

Hari kedua di Kuala Lumpur, tujuan pertama kami ialah Batu Caves dengan patung emas tinggi menjulang yang sangat ikonik itu. Saat kami berada di KL Sentral dan menunggu kedatangan MRT, aku dan Indri berkenalan dengan sepasang kekasih asal Spanyol, kalau enggak salah namanya Patricia dan Daniel.

Karena tujuan kami sama-sama ke Batu Caves, akhirnya kami janjian untuk terus bareng. Kami berempat pun menjadi akrab. Dari Batu Caves, kami pun mengikuti mereka ke Masjid Jamek, masjid tertua di Kuala Lumpur. Karena hari itu hari Jumat, turis tak diizinkan masuk karena ibadah salat Jumat segera dimulai.

Bersama Patricia

Bersama Daniel

Gerbang masuk menuju kuil umat Hindu yang ada di atas bukit batu.

Penjual minuman

Mejeng

Mejeng lagi


Aku, Indri, Patricia dan Daniel kemudian menuju Bangunan Sultan Abdul Samad. Lokasi bangunan ini tepat di depan Dataran Merdeka. Saat itu di Dataran Merdeka ada festival kuliner, kami pun makan siang di sana. 

Masjid Jamek

Dataran Merdeka. Di sini lagi ada pameran kuliner. 

Patricia and Daniel

Eh mejeng lagi

Dari Dataran Merdeka, kami menuju kawasan Little India dengan berjalan kaki. Kami memasuki beberapa toko yang menjual perhiasan dan aksesoris India tapi tak membeli apapun. Aku cuma melihat-lihat produk yang dijual di sana apakah sama dengan yang biasa kutemukan di toko-toko Indonesia seperti sabun, shampoo, dan lainnya. Jika ada yang sama dengan yang ada di Indonesia, aku dan Indri akan menertawainya. Hahaha.
Kawasan Little India

Mejeng deket penjual bunga

Toko yang jual sayur

Toko perhiasan



 Aksesoris yang biasa dipakai perempuan India saat pesta

Setelah menemani Patricia menghias punggung tangannya dengan Henna, kami naik LRT dengan tujuan Masjid Negara Malaysia, semacam masjid raya kalau di Indonesia. Aku dan Indri akan salat Zuhur di sana. 


Masjid Negara Malaysia

Waktu itu Daniel dan Patricia bertanya apakah boleh mereka ikut masuk. Tapi sayang waktu itu mereka dilarang oleh petugas di masjid itu. Saat itu hujan turun sangat deras. Kami pun berpisah dan mereka bilang akan menunggu kami di stasiun. 

Aku dan Indri salat dan hujan semakin deras. Sudah cukup lama kami di masjid. Aku kepikiran Daniel dan Patricia yang sedang menunggu kami di stasiun. Pasti mereka kesal dan marah. Padahal mereka begitu baik menemani kami ke masjid untuk salat. Sayangnya waktu itu kami lupa bertukar nomor kontak yang bisa dihubungi.

Saat aku dan Indri kembali ke stasiun, aku mencari dimana Daniel dan Patricia tapi tak ada. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar, ke penjuru stasiun, tapi nihil. Mungkin mereka pergi dengan rasa kesal di hati karena menunggu kami cukup lama.

Aku menyesal kehilangan mereka. Aku pun mencoba mencari melalui media sosial tapi nihil. Saat itu mereka menyimpan alamat surelku, tapi email pun tak ada.

Aku ingin meminta maaf kepada mereka. Karena telah membuat mereka berdua menunggu lama dan meminta maaf karena mereka tak diizinkan masuk masjid pada saat itu. Jujur, aku masih menyimpan rasa bersalah sampai saat ini. Oh iya, Patricia adalah seorang polisi di kota tempat dia tinggal. Saat itu Daniel juga bercerita bahwa di wilayahnya banyak penduduk Muslim dan masih ada peninggalan peradaban Islam di sana. Mereka berasal dari sebuah kota kecil yang cukup jauh dari Barcelona, tapi sayang aku lupa dan tak mencatat.

Patricia and Daniel, wherever you are, I beg you my pardon. Forgive me!



Comments