Perpusnas RI; The Coolest Building Must Visit in Jakarta




Perpustakaan dan toko buku selalu menjadi tempat favoritku. Bagiku, tempat semacam itu merupakan salah satu surga kecil di dunia yang riuh ini. Aku melipir ke toko buku atau perpustakaan biasanya untuk menemukan keheningan dan ketenangan.

Menatap tumpukan buku saja sudah membuatku tenang dan bahagia. Tak berlebihan memang jika Jorge Luis Borges mengatakan bahwa perpustakaan adalah sebentuk potongan surga.

Selama di Jakarta, aku beberapa kali berkunjung ke Perpustakaan Nasional. Sejak pertama kali menginjakkan kaki, aku telah dibuat jatuh hati.

Perpustakaan Nasional berada di Jalan Medan Merdeka Selatan dan berdekatan dengan Balai Kota, Kantor Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Sebelum masuk ke bangunan utama yang berlantai 24, pengunjung bisa melewati bangunan pertama di area depan. Bangunan ini semacam ruang pameran yang memajang foto-foto kegiatan Presiden Joko Widodo dan para petinggi negara lainnya.

Selain itu dipajang juga babad-babad lama di dalam sebuah lemari kaca yang disertai keterangan mengenai isi babad yang ditulis dalam aksara Sansekerta itu. Ada juga ruang pameran digital tentang sejarah aksara dan lain sebagainya. Keren banget.











Aku pun makin terperangah saat memasuki bangunan utama yang berada di belakang. Gedung 24 lantai itu cukup megah. Saat memasuki lobby, kita akan disambut dengan deretan foto para Presiden RI mulai dari Soekarno sampai Jokowi. Selain itu ada juga buku-buku karya para presiden atau buku tentang mereka yang dipajang dalam lemari kaca.

Hal yang paling menarik dari lobby ini adalah rak buku yang menjulang tinggi. I was so mesmerized!


Rak tinggi di belakangku yang menyambut pengunjung saat memasuki lobby


Bagi yang ingin mendaftar sebagai anggota, bisa langsung naik ke lantai dua. Tapi sayang di sini antrean selalu ramai dan sampai tulisan ini kubuat, aku belum kembali ke sana untuk mencetak kartu. Hanya saja, namaku sudah terdaftar. Waktu itu aku malas antre dan pelayanan segera tutup jadi aku skip.

Di lantai dua juga terdapat ruang penitipan tas. Bagi yang akan ke ruang baca, harus titip tas dulu di lantai dua. Ruang baca antara lain ada di lantai 22, 23, dan 24. Aku cuma pernah ke lantai 23 dan 24. Ruang bacanya keren banget. Kursi maupun sofa yang tersedia sangat nyaman.

Aku belum sempat menjelajahi sudut-sudut ruang baca, jadi belum bisa cerita banyak soal koleksi bukunya. Waktu itu aku ke section buku-buku tentang sejarah nusantara dan menemukan buku Babad Lombok. I was so excited. Tapi sayang, isinya menggunakan Bahasa Jawa Kuno (kalau tidak salah). Jadi aku enggak paham. Tapi ada pengantarnya yang menceritakan isi buku.





Oh iya satu lagi, pada Desember 2017, sehabis liputan di Monas aku melipir ke Perpusnas dan waktu itu aku ketemu sama Sherina Munaf yang datang sama bapaknya, Triawan Munaf. Keren ya artis yang menyempatkan berkujung ke perpustakaan.

Yogi (wartawan Jawa Pos), Sherina, dan aku

Semoga megahnya bangunan Perpusnas kita paralel dengan tingginya minat baca masyarakat Indonesia. Ayo ke Perpus.


Comments