Pameran 63 Tahun KAA dan cerita Megawati Soekarnoputri




Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955 merupakan salah satu sejarah penting dari perjalanan bangsa Indonesia pascakemerdekaan. KAA merupakan salah satu momentum lantangnya Indonesia mengajak seluruh bangsa di dunia untuk menghapuskan penjajahan dan menjadi negara berdaulat.

Dampaknya pun cukup besar. 10 tahun pascapelaksanaan KAA, 41 negara di Asia dan Afrika memproklamasikan kemerdekaannya. Seperti diketahui, KAA diikuti 200 delegasi dari 29 negara dan menghasilkan komunike Dasa Sila Bandung.

Arsip foto peristiwa bersejarah itu dipamerkan pertengahan April  2018 lalu di Gedung LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Pameran ini merupakan rangkaian peringatan 63 tahun KAA. Pembukaan pameran dihadiri Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri yang sekaligus menjadi saksi sejarah peristiwa itu.




Saat KAA berlangsung, Megawati berusia 8 tahun. Cerita berlangsungnya KAA ia dapat langsung dari ayahnya, Bung Karno.

Dalam pameran itu ditampilkan foto-foto hitam putih para pemimpin dunia yang hadir waktu itu dan prosesi penyambutannya. Termasuk foto-foto jalannya konferensi. Arsip KAA juga telah ditetapkan sebagai Memory of the World oleh UNESCO PBB pada 9 Oktober 2015.












Pada kesempatan itu Megawati juga bercerita tentang pengalamannya menjadi delegasi Indonesia termuda saat mengikuti konferensi tingkat tinggi (KTT) Gerakan Non Blok (GNB) pertama pada tahun 1961 di Beograd. Saat itu ia baru berusia 14 tahun dan duduk di dekat ayahnya, Presiden pertama RI, Soekarno dan PM India, Jawaharlal Nehru.

"Saya dijadikan resmi sebagai delegasi termuda waktu itu. Waktu itu saya berperan, bayangkan saya duduk dekat Bung Karno dan Nehru dan saya merasa usia saya menjadi lebih tua dan saya masih berpikir tadi yang saya omongkan apa ya? Dan begitulah saya diberi pelajaran oleh ayah saya untuk mengetahui sejarah politik internasional," kenangnya.

Bu Mega membuka pameran



Misi KTT Non Blok juga masih sama dengan KAA, yaitu menyerukan perdamaian dunia dan menentang imperialisme dan kolonialisme. KTT Non Blok terealisasi setelah Bung Karno berpidato di Sidang Umum PBB tahun 1960.

Dalam pidato berjudul "To Build a World Anew" itu, yang disebut pidato terpanjang dalam sejarah Sidang Umum PBB, Bung Karno memperkenalkan Pancasila kepada dunia. Nilai-nilai Pancasila bisa berlaku universal. Dari mimbar itulah penentangan Bung Karno terhadap kolonialisme dan imperialisme semakin lantang terdengar. Dalam kesempatan itu Bung Karno juga menyurakan perjuangan nasib rakyat Kongo dan Aljazair yang masih belum merdeka dari penjajahan.

Megawati bercerita, keterlibatannya baik secara langsung maupun tidak langsung dalam peristiwa sejarah penting dunia itu turut membentuk karakternya dalam berpolitik. Ia pun mengungkapkan kerinduannya pada perdebatan argumentatif para pemimpin bangsa.

"Seperti yang saya saksikan, ikuti, dan catat langsung ketika itu antara tokoh-tokoh GNB dimana perdebatan penuh martabat dan saling menghormati, rasional dan penuh bela rasa," ceritanya.


Liputan acara-acara bertema sejarah adalah salah satu hal yang paling menarik buatku. Menambah wawasan baru dan semakin menghargai jasa para pendiri bangsa bagaimana bisa lepas dari cengkeraman kolonialisme dan mempertahankan kemerdekaan. Salute!

Di acara ini dapat buku bilingual yang berisi pidato pemimin dunia pada saat KAA di Bandung. Kebetulan acara pameran ini juga dirangkai dengan peluncuran buku "Hidup dan Biarkan Hidup: Persatuan dalam Keberagaman Asia Afrika" yang disusun Rieke Diah Pitaloka.









Comments

Post a Comment