Safari Masjid dan Bertemu Ulama Idola


Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan


Ramadan 1439 H/2018 M aku lalui di Jakarta. Ini pertama kali puasa di rantauan setelah lulus kuliah. Maksudnya rantauan luar daerah. Karena sebelumnya selama 6,5 tahun aku juga merantau tapi masih satu daerah dengan rumahku yang bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam.

Pertama kali puasa di Jakarta rasanya sedih karena sama sekali gak akan bisa buka bareng ibu selama Ramadan. Kalau dulu semasih tinggal di Mataram bisa pulang tiap pekan menyempatkan diri menengok ibu.

Aku berkomitmen pekerjaanku tak boleh menghalangi ibadahku di bulan suci ini. Khususnya salat tarawih. Sebisa mungkin harus disempatkan untuk tarawih. Aku pun berencana safari ke masjid-masjid yang dekat dengan lokasi liputan terakhirku. Di masjid itulah aku akan tarawih.

Pada Senin, 21 Mei 2018, aku rampung liputan di Kantor Komnas Perempuan jelang magrib. Kesempatan bagiku untuk melipir ke Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Malam itu akhirnya tarawih di sana. Jarak dari Kantor Komnas Perempuan ke masjid ini lumayan dekat, sekitar 500 meter. Aku pun jalan kaki ke sana.


Masjid Sunda Kelapa

Di sekitar masjid banyak pedagang yang menjual berbagai makanan dan takjil. Begitu juga di halaman masjid yang dipenuhi pedagang busana muslim. Ini pertama kali aku berkunjung ke Masjid Sunda Kelapa.

Pelataran Masjid Sunda Kelapa


Lapak pedagang di pelataran Masjid Sunda Kelapa


Sepertinya masjid-masjid besar di Jakarta dipenuhi pedagang saat bulan Ramadan. Hal yang sama juga aku temui di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan. Tapi di sini kebanyakan penjual makanan.



Taman di pelataran Masjid Agung Al Azhar


Ada hal tak terduga dan membuatku sangat bahagia saat bersafari ke Masjid Agung Al Azhar, Selasa (22/5) malam. Usai berwudhu, aku naik ke lantai atas tempat jemaah melaksanakan salat. Malam itu jemaah telah selesai salat Isya dan ceramah sebelum tarawih telah mulai.

Aku berkata dalam hati, "Suara penceramah ini seperti nggak asing di telingaku? Tapi siapa ya?" Setelah kuperhatikan dan kutengok layar di depanku, ternyata Bapak KH Nazaruddin Umar, imam besar Masjid Istiqlal. Masyaallah. Aku bahagia sekali. Beliau adalah salah satu ulama idolaku. Pengajian beliau di acara Pintu-Pintu Syurga di Indosiar sering aku ikuti.




Menurutku beliau adalah sosok ulama yang sangat lembut dan isi ceramah beliau selalu menyejukkan. Betapa bahagia bisa mendengar langsung ceramah beliau.

Malam itu beliau mengisahkan tentang Abu Hurairah ra yang beberapa kali didatangi maling saat menjaga Baitul Mal. Ternyata yang mendatangi sahabat Rasulullah itu bukanlah maling dari kalangan manusia tapi setan berwujud manusia. Saat ketiga kali didatangi, Abu Hurairah batal menangkap maling itu walaupun telah diminta Rasulullah SAW. Alasannya karena si maling mengajarkan beliau ayat Kursy karena itu Abu Hurairah menganggap maling itu sebenarnya orang yang berilmu. Ia baru tahu didatangi setan setelah diberitahu Rasulullah SAW. Setan itu adalah bosnya para setan.

Pelajaran moralnya,kita jangan mudah menilai orang dari penampilan luarnya. Setan kerap menggunakan jubah malaikat untuk mengelabui manusia.

KH Nazaruddin Umar meminta kita untuk berhati-hati dan jangan terkecoh dengan penampilan.

"Apa yang terjadi pada Abu Hurairah bisa terjadi pada kita semua," pesan beliau.

Ia juga mengatakan semakin tinggi tingkat spiritualitas atau keimanan seseorang, tak membuat orang tersebut bebas dari godaan setan. Mereka akan digoda oleh panglimanya setan.

"Kalau penjahat biasa yang enggak pernah salat dan beribadah itu paling yang goda prajurit-prajuritnya setan," kata dia.

"Orang yang terlalu merekonstruksikan kedekatannya dengan Allah, yang sengaja mendandani diri dan tampil sebagai ulama besar dan sebagainya, hati-hati. Belum tentu yang berpenampilan malaikat isinya juga malaikat. Ada orang yang busuk sekali hatinya tapi mulutnya sangat manis dan sebaliknya."

Itulah pesan mengena dari ceramah Pak Nazaruddin Umar. Kita juga diingatkan agar hati-hati dalam mencari teman. Secara khusus ia juga berpesan kepada warga Jakarta agar belajar dari pengalaman dan jangan mudah dipecah belah.


Semoga Allah menerima amal ibadah puasa kita di bulan suci ini. Aamiin.


Comments