Bookdate di Perpustakaan Taman Literasi Blok M

 



Aku punya tempat baca favorit baru di Jaksel: Perpustakaan Taman Literasi di Blok M. 

Sebelumnya aku gak pernah ke dalam perpustakaannya dan cuma duduk di luar atau di taman rumput. Tapi baru di tahun 2024 aku masuk ke perpustakannya dan nyaman banget. Koleksi bukunya juga bagus-bagus mulai dari buku anak-anak, fiksi, non-fiksi, buku Bahasa Indonesia berbagai genre dan ada juga bahasa Inggris.

Masuk ke sini gratis pula tanpa syarat. Tapi bukunya enggak bisa dipinjam bawa pulang, hanya baca di tempat.

Di kunjungan keduaku, Sabtu (13/1/2024), aku baca tiga buku, buku-buku tipis bergambar, buku anak-anak. Ini dia bacaanku:


1. Snow White and the Seven Dwarfs (A Classic Fairy Tale) - Illustrated by Van Gool.



Ini baru pertama kali aku baca kisah si Putri Salju hahaha. Walaupun tahu namanya, tapi aku baru tahu ceritanya.

Buku ini tipis tapi ilustrasinya bagus, berwarna.

Snow White adalah putri seorang raja yang ditinggal mati ibunya. Lalu dia punya ibu tiri jahat yang iri sama kecantikan dan kulit Snow White yang putih. 

Lalu ibu tiri yang menjadi ratu menggantikan ibu Snow White berusaha menyingkirkan anak tirinya dengan upaya membunuhnya yang berulang kali gagal. Upaya terakhirnya adalah memberi apel beracun ke Snow White. Tetapi kemudian sang putri selamat setelah dicium seorang pangeran wwkwkkw.

Apakah dari cerita ini muncul standar kecantikan itu adalah berkulit putih? White supremacy banget. Hadeeeh.


2. The Negro Speaks of Rivers - Lansgton Hughes/Illustrated by E.B. Lewis



Aku suka banget buku ini. Ini adalah puisi karya Langston Hughes. Salah satu puisinya paling terkenal. 

Setiap baris kalimat dalam puisi ini disertai ilustrasi.

Puisi maupun ilustrasinya sangat indah. Puisi ini menggambarkan kekuatan dan keberanian orang kulit hitam di Amerika, di mana hidup mereka sangat dekat dengan sungai.

Puisi ini dibuat Langston Hughes saat ia berusia 18 tahun. 

Ilustrasinya realis, sangat indah.




I've known rivers:

I've knows rivers ancient as the world and older than the flow of human blood in human veins.


My soul has grown deep like the rivers.


I bathed in the Euphrates when dawns were young

I built my hut near the Congo and it lulled me to sleep.

I looked upon the Nile and raised pyramids above it.

I heard the singing of Mississippi when Abe Lincoln went down to New Orleans, and I've seen its muddy bosom turn all golden in the sunset.


I've known rivers.

Ancient, dusky rivers 


My soul has grown deep like the rivers.


3. Harry Potter Film Vault Volume 2; Diagon Alley, the Hogwarts Expresss, and the Ministry - Jody Revenson



Sebagai penggemar Harry Potter, aku girang nemu buku ini. Buku ini mengungkap cerita di balik bagaimana tim kreatif film Harry Potter membuat setting tempat yang ikonik dalam film tersebut.

Disebutkan juga bagaimana mereka mencari lokasi untuk tempat-tempat seperti Diagon Alley dan stasiun Hogwarts Express yang sesuai dengan karakter yang dijelaskan dalam film.

Salah satu fun fact ternyata setting peron 9 3/4 itu diambil bukan di antara peron 9 dan 10 di Stasiun King Cross London, tapi di antara peron 4 dan 5, bukan di bangunan utama stasiun, tapi di bangunan lain di samping bangunan utama. Karena menurut Stuart Craig, producer designer, bangunan kecil itu memiliki arsitektur Victorian yang sesuai dengan karakter bangunan yang ingin mereka tampilkan.

Fun fact lainnya, gerbong Hogwarts Express 5972 adalah kereta uap bekas yang terbengkalai bernama Olton Hall, dibuat pada 1937 oleh Great Western Railway. Olton Hall ini digunakan sampai tahun 1963 dan ditemukan terbengkalai di lahan South Wales, sebelum direstorasi untuk digunakan sebagai properti film Harry Potter.



Itulah buku-buku yang aku baca on my bookdate part II in early 2024.

Happy! Kapan-kapan aku balik lagi deh bookdate ke sini.

Jangan lupa baca buku biar happy terus!

Comments

Popular Posts