Kutipan Buku



Setiap membaca buku, aku paling suka menandai kutipan-kutipan yang aku anggap menarik, menginspirasi, dan memberi motivasi untuk diri sendiri. Jadi setiap baca buku, aku harus sedia stabilo untuk menandai. Kalau bukunya format e-book, kutipan menariknya aku catat di note handphone.

Disini kutipan-kutipan dari beberapa buku yang aku baca tahun 2014.

1. Catatan Ichiyo; Perempuan Miskin di Lembar Uang Jepang karya Rei Kimura

Bagaimana mungkin mereka memiliki masa depan jika masa kini saja mereka tak mampu dapatkan.

Dunia ini tiba-tiba begitu membingungkan dengan kemungkinan jungkir baliknya keberuntungan dan status seseorang. Aku benci memikirkan uang dan bagaimana ia merusak dan menggerogoti moral, betapa banyak orang yang berbuat kebodohan demi uang.

Betapa anehnya jika kau mencintai seseorang, kau menutup mata dan telinga terhadap kesalahan dan kekurangannya.

Aku tak tahu apa yang digariskan nasib untuk kami, namun setidaknya, sekali dalam hidupku, aku tahu bagaimana rasanya mencintai seorang pria.

Mereka bilang cinta membawa gejolak perasaan yang teramat asing di dalam jiwa dan hati manusia, kepedihan menyakitkan akibat lenyapnya cinta juga merupakan dorongan tenaga yang kuat dan tahan lama dibalik beberapa karya cipta manusia yang paling bebas dan lepas dari penilaian sosial.

2. Titik Nol karya Agustinus Wibowo

Justru karena masih ada mimpi, kita jadi punya alasan untuk terus hidup, terus maju, terus berjalan, terus mengejar. Tanpa mimpi sama sekali, apa pula arti hidup ini? (Halaman 65).

Jangan sampai padam mimpi-mimpi itu, bagaimanapun terjangan realita yang menimpa. (Halaman 80).

Perjalanan pasti bakal mengubah manusia, dan kamu pasti akan berubah bersama perjalanan. (Halaman 82).

Kutinggalkan ijazah dari universitas ternama, kupilih kehidupan terkatung di jalanan, karena kuyakin di sini ada kebahagiaan. Aku mengungsi dari tekanan sosial, menyepi dari keluarga, eksodus dari rumah, melepaskan tanggung jawab. (Halaman 136).

Masa lalu sudah lewat, tetapi kamu masih disiksa masa lalu. Tak ada kebahagiaan disana. Jangan dipikir lagi. Yang lalu, biarlah berlalu. Masa lalu adalah penyesalan, masa depan adalah ketakutan. (Halaman 158).

Monster raksasa itu bukan cuma gunung menjulang. Dia adalah mimpi-mimpi, cita-cita. Dia juga tantangan dan cobaan hidup. Manusia akan selalu menaklukkan berbagai puncak gunung dalam kehidupannya masing-masing. (Halaman 187)

Di mataku, hal yang membedakan kualitas perjalanan adalah apakah digunakan hati. Ada yang pergi ke ratusan negara, sampai sudah tak ingat lagi mana-mana saja yang pernah didatangi, selain bukti foto-foto dan cap di paspor yang menjadi piala kebanggaan. Ada orang seperti Lam Li, yang berjalan perlahan-lahan, mendalami negeri-negeri , menyelami manusia, menganalisa sejarah, mempelajari budaya, mencatat setiap cerita. (Halaman 232).

India adalah paket lengkap. Kita tertawa bersama, menangis bersama, histeris dan takut, marah, terharu, semua bisa terjadi bersamaan, seperti satu paket combo emosi yang disodorkan film Bollywood. Membaca kitab akbar India adalah bagaikan melihat lukisan Dewi Kali (Dewi Kematian) yang kejam namun cantik. Orang bilang, tak bakal ada satu buku pun yang sanggup menulis tentang India. (Halaman 267)

Hidup ini memang menarik karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, seperti penonton dibuat terkesima oleh lika-liku alur yang menukik drastis. (Halaman 302)

Kebahagiaan. Kata itu sungguh mudah diucapkan. Semua orang tahu apa artinya, dan selalu mendambanya. Kebahagiaan itu memabukkan. Sekali mencicipinya, kita akan berusaha mati-matian mencarinya. Tapi semakin dicari, kebahagiaan rasanya semakin menjauh. Inilah awal penderitaan, karena orang yang dimabuk kebahagiaan akan terus terobsesi, terus mencari, terus kehausan, diliputi keserakahan untuk terus menenggak dan menimbun tanpa henti. (Halaman 316)

Ada riset mengatakan, otak orang yang berbahagia lebih merespons secara positif terhadap hal-hal kecil dan sepele, yang sering terlewat oleh orang lain. (Halaman 318)

Dalam perjalanan, memang pada awalnya kita belajar menghilangkan diri, tapi pada akhirnya kita justru menemukan jati diri dan menjadi diri. Di awal perjalanan kita melihat negeri-negeri yang antik dan eksotik, tapi semakin lama kita berjalan, yang kita lihat justru adalah gambaran kemanusiaan kita sendiri. Di awal perjalanan, kisah berpusat pada "aku" dan selalu "aku", namun perlahan-lahan si "aku meredup", berganti dengan "mereka". (Halaman 414)

Hidup bagaikan melayarkan perahu di samudera luas. Terkadang laut tenang dan semilir angin bersenandung, terkadang ombak besar menerjang. Kita boleh mengembangkan layar, boleh melempar jangkar, atau mendayung kuat-kuat. Semua itu hanya untuk bertahan, demi lintasi perjalanan. Ada yang karam, ada yang babak belur, ada yang mencapai tepian. Kita tak punya kuasa untuk mengubah laut berkemelut. Kita rakyat kecil hanya mengubah diri kita, karena hanya itu yang kita mampu. (Halaman 417)

Hidup itu adalah sebilah cermin. Dunia di matamu sesungguhnya adalah cerminan dari hatimu sendiri. Caramu memandang dunia adalah caramu memandang diri. Jika dunia penuh kebencian dan musuh ada di mana-mana, sesungguhnya itu adalah produk dari hatimu yang dibalut kebencian. Jika kaukira dunia penuh orang egois, itu tak lain adalah bayangan dari egoisme egomu sendiri. Dunia yang muram berasal dari hati yang muram. Sedangkan kalau dunia di matamu selalu tersenyum ramah, berterimakasihlah pada hatimu yang diliputi cinta. Ada aksi pasti ada reaksi. Ada perbuatan pasti ada balasan. Semua itu simetris. (Halaman 423-424)
Perjalanan adalah tentang sudut pandang. Semua itu tergantung dari kacamata mana kita memandang. (Halaman 439).

Sudut pandang itu relatif. Perjalanan itu bukan untuk bicara benar salah, bukan untuk mengubah dunia. Perjalanan menembus zona bukan untuk memaksakan sudut pandang kita pada mereka, ataupun menelan mentah-mentah semua sudut pandang mereka. Perjalanan adalah belajar untuk melihat dari berbagai sudut pandang, memahami sudut pandang, dengan menjadikan mereka--orang-orang biasa dalam kehidupan biasa--sebagai tokoh utama kisah. (Halaman 439)

Aku khawatir, pekerjaan yang katanya demi kemanusiaan ini justru akan membunuh rasa kemanusiaanku. (Halaman 469)

Perjalanan hidup memang laksana labirin. Di pangkal jalan, di titik tujuan itu terlihat begitu gamblang di kejauhan. Jalan lempang terbentang. Engkau berjalan dan berjalan, melangkah penuh keyakinan, lurus menuju tujuan. Langkah demi langkah mengalir lancar, titik tujuan terlihat makin dekat, makin nyata. Tapi sekonyong-konyong, di hadapanmu melintang dinding tak tertembus. Jalanmu terhalang. Kau harus berbelok, tak ada pilihan. (Halaman 470)

Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang. (Halaman 531)

Perjalanan adalah menghargai hidup, mencintai hidup, merayakan hidup, memberi makna pada setiap menit, setiap detik, dan setiap hembusan napas. (Halaman 546)

Safarnama itu bukan melulu tentang kisah-kisah eksotis. Perjalanan itu bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik, lokasi dan lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berarti berhenti disitu. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada adalah lingkaran sempurna, tanpa sudut, tanpa batas. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali. (Halaman 547)


3. Filosofi Kopi karya Dee Lestari

Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan. (Halaman 43)

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu--entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan.. Karena cinta adalah mengalami. (Halaman 43)

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud. (Halaman 43-44)

Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beu dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau... Berbeda. (Halaman 48)

Satu garis jangan sampai kau tepis: membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya. (Halaman 50)

Cinta mampu merambah dimensi angka dan rasa sekaligus. (Halaman 52)

Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya. (Halaman 67)

Larilah dalam kebebasan kawanan kuda liar. Hanya dengan begitu, kita mampu memperbudak waktu. Melambungkan mutu dalam hidup yang cuma satu. (Halaman 70)

Cinta hanya retorika kalau tidak ada tindakan nyata. (Halaman 76)

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkan ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? (Halaman 97)

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin disandung. Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring. (Halaman 98)

Mimpi tak berlengan, tetapi akan selalu ada jika engkau menginginkan. (Halaman 100)

4. The White Tiger karya Aravind Adiga

Di tengah tumpukan kotoran, orang tidak mungkin berbau harum.

Seandainya setiap orang bisa meludahkan masa lalu dengan mudahnya. (Halaman 161)

Biarlah binatang hidup seperti binatang; biarlah manusia hidup seperti manusia. (Halaman 301)

Tapi, apa gunanya memenangkan pertempuran kalau kau bahkan tidak tahu ada perang yang sedang berlangsung? (Halaman 310)


Comments